Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalsel, M Yani Helmi, saat melakukan reses di Karang Bintang, Tanah Bumbu, Senin (21/1).

Yani Helmi Reses di Karang Bintang, Petani Karet Ingin Pindah ke Sawit

Diposting pada

BATULICIN – Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalsel Muhammad Yani Helmi, menanggapi keinginan masyarakat untuk mengubah pola perkebunan mereka dari karet menjadi sawit.

Itu terjadi ketika Yani menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat, menjaring aspirasi (reses), di Kecamatan Karang Bintang, Tanah Bumbu, Senin (22/1).

Keinginan tersebut didasari harga karet yang menurun kian tahun. Ditambah produktivitas karet kurang maksimal akibat diserang Jamur Akar Putih (JAP).

Akibat lain dari infeksi patogen itu adalah secara ekonomis, yaitu memerlukan biaya yang tinggi dalam pengendaliannya.

“Sehingga kami hari ini ingin memfasilitasi keinginan dari masyarakat kami di Karang Bintang dan sekitarnya untuk bagaimana caranya memformulasikan apakah ada cara dan tindakan untuk mengatasi masalah tersebut,” ujar Yani Helmi saat berhadapan dengan warga Karang Bintang.

Terkait perkebunan sawit, lanjut Yani, jika karet memang tidak bisa lagi menopang kehidupan masyarakat, solusi agar perekonomian tetap stabil yakni melalui konversi karet ke sawit.

“Makanya ini disampaikan kepada kami dan kebetulan kami juga bersama Disbunnak Kalsel datang untuk mencari tahu apa yang sebenarnya menjadi persoalan,” tutur Yani.

Yani menyayangkan reses kali ini tidak dihadiri oleh Pemkab setempat. Padahal menurutnya perlu kolaborasi yang baik antara pemerintah kabupaten dan provinsi.

“Kita sebagai orang yang menginisiasi dan mendorong supaya persoalan bisa diselesaikan. Keinginan masyarakat simpel saja, bagaimana caranya agar ekonomi tetap stabil. Sehingga masyarakat kami tidak tertinggal perekonomian dengan daerah lain,” tutup Yani.

Sementara itu, Camat Karang Bintang, Syafrudin, mengatakan, usia produktif karet hanya berkisar 30 tahun.

Selain itu, disebutkannya, beberapa petani karet mengeluhkan penjualan yang sudah tidak menguntungkan sejak beberapa tahun terakhir.

“Sehingga bisa dibilang sudah kadaluarsa, jadi harapan kami ada konversi menjadi tanaman sawit,” ungkapnya.

Syafrudin juga menginginkan, agar pemerintah bisa membantu dalam hal pemeliharaan selama proses tanam.

“Kami berharap untuk penggarapan lahan. Untuk menopang kehidupan selama kurang lebih empat tahun,” tutupnya.[]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *