Oleh: Aminuddin
Pentas Tunggal dengan naskah “Bukan Rumah” karya Elli Siah Asmayani dan disutradarai oleh Astridienna, yang telah selesai dipertunjukan oleh Teater Himasindo pada 03 Maret 2024 di Balairung Sari, dihadiri dengan penonton yang cukup penuh mengisi bangku penonton. Mengikuti bagaimana perkembangan marketing mereka dari permainan dalam publikasi di media sosial, saya rasa mereka perlu diberikan apresiasi untuk triler yang telah dibuat. Sayapun juga salah satu penonton yang ikut tertarik dengan isi yang dihadirkan dari triler tersebut, tanpa sadar juga akhirnya saya mencoba berekspetasi dengan sajian dan tawaran-tawaran isu yang diangkat ke atas panggung.
Tentang Pertunjukan
Sepanjang pertunjukan berjalan jujur memberikan kesan berkerut dan berpikir, saya tidak menemukan sesuatu yang renyah untuk dinikmati. Tampaknya ada ketidaksesuaian dalam perencanaan dan target produksinya. Mari kita masuk satu persatu, ide cerita yang dipilih sebenarnya termasuk menarik ada permainan misteri, seperti dalam cerita-cerita yang mengusung genre horor atau mungkin misteri. Namun sayangnya, ada usaha yang belum matang dalam penyelesaian naskahnya. Jalinan-jalinan dari plot yang membentuk satu adegan ke adegan lainnya, untuk beberapa moment menjadi terkesan patah dan tidak mengalir dengan baik sebagai satu kesatuan benang merah. Transisi atau sering disebut sebagai jembatan-jembatan penyambung ini tampaknya perlu ditelaah kembali agar bisa menjadi lebih rapi dan halus untuk disajikan.
Kebijaksanaan Sutradara dalam membuat konsep dan mengemas pertunjukan, sepanjang pertunjukan penonton tidak mendapatkan kekayaan dalam berbagai emosi dari aktor yang sedang bermain. Kesan dan feel yang di dapatkan itu terbatas kepada ketegangan – dingin – dan mencekam, ya itu saja. Jika hal ini memang disengaja sebagai sebuah tujuan dalam konsep pertunjukan, saya rasa hal ini termasuk ketidaktepatan dalam pemilihan konsep, jika kita menganggap horor yang diusung dalam pertunjukan kali ini masih beririsan dengan pemahaman tragedi maka hal ini sudah menjadi sebuah kekeliruan dan pengemasannya, karena tidak ada tokoh yang secara person diperlihatkan secara lengkap (total humanis) utuh diperlihatkan, sebelum kemudian mengalami kemalangan nasib. Keterbatasan ini yang kemudian membuat pertunjukan kali ini menjadi mononton. Menyadari tentang tawaran-tawaran lain yang memungkinan bisa dipilih dari potensi yang ditawarkan oleh naskah sebenarnya memungkinkan menjadi sebuah visi ataupun tujuan pertunjukan yang memungkinkan memberikan kesegaran-kesegaran yang mungkin bisa dihasilkan dalam pertunjukan kali ini. Di sini pentingnya sutradara memiliki kebijaksanaan dalam menentukan visi karyanya dan melakukan analisa naskah dengan selesai sebelum memasuki proses produksi. Agar tidak mengalami kekeliruan-kekeliruan dalam menentukan visi dan membuat konsep pertunjukannya.
Aspek berikutnya adalah tampak visual dan audio dari tatanan artistik yang diciptakan dari pertunjukan kali ini terlihat tidak terjalin dengan baik dan terlihat bukan sesuatu yang dianggap penting dalam satu kesatuan pertunjukannya. Dari pemilihan konsep dari setting dan properti yang sepertinya ada maksud untuk menciptakan perbedaan dimensi namun hal ini sepertinya tidak ada kesepakatan dengan aktornya, penggunaan warna yang didominasi oleh warna putih juga tidak berhasil menghasilkan sesuatu maksud khusus dalam satu-kesatuan konsep artistiknya. Hal ini juga terjadi dibagian permainan tatanan musik dan bunyi dalam pertunjukannya, jika memahami salah satu fungsi tata musik dan bunyi, ada aspek penting untuk menggiring secara feel melalui perubahan-perubahan yang terjadi dalam suasana adegan, namun hal ini juga sepertinya tidak terperhatikan dengan matang.
Kita masuk ke aspek terpenting dalam sebuah pertunjukan teater. Keaktoran yang diproyeksikan oleh aktor-aktor yang bermain di atas panggung tampak masih terkendala dengan teknik-teknik dasar keaktoran, baik dari segi vokal yang tidak konsisten, gerak yang kaku, dan feel yang didominasi emosi-emosi ketegangan belaka. Keharmonisan antara aktor dengan artistik juga tidak terjalin, dua hal ini seperti berjalan sendiri-sendiri dalam durasi yang sama. Akhirnya aktor sebagai pengemban / penyampai pesan dari suatu pertunjukan teater, menjadi tidak bisa memenuhi tugas dan kewajibannya di atas panggung.
Jika memahami bagaimana hal ini bisa terjadi, tampaknya ada ketidak seimbangan yang terjadi dalam Manajemen Seni Pertunjukan (MSP) dalam produksi kali ini, materi-materi yang ditawarkan oleh naskah sebagai muara dari suatu pertunjukan tampaknya terlalu berat untuk diangkat ke atas panggung teater, banyak aspek dan unsur pertunjukan yang tidak berhasil dikerjakan dengan baik ataupun maksimal. Pemahaman & penguasaan MSP menjadi salah satu hal penting dalam produksi teater (penciptaan karya), salah satu aspeknya adalah dapat memilih naskah yang tepat dengan orang-orang yang akan terlibat dalam badan produksinya nanti, juga termasuk waktu dan tempat. Untuk bisa menentukan naskah, waktu, dan tempat pentas, diperlukan kebijaksanaan untuk bisa menghasilkan pertunjukan yang baik, sayangnya hal ini tampaknya terabaikan.
Jika memahami bagaimana kiprah Teater Himasindo selama ini dalam ekosistem teater di Banjarmasin, hal ini sebenarnya tidak pernah menjadi kendala setidaknya sebelum ini (sejauh yang saya tau). Untuk sutradara dan penulis naskah dalam produksi kali ini, tampaknya adalah orang-orang baru. Teruslah belajar dan berkarya, jangan berhenti dalam satu produksian atau menjadi orang-orang yang dekaden (muncul dan hilang). Teater itu memerlukan konsistensi yang kuat dan yang terkahir, selamat datang di ekosistem teater Banjarmasin.



