Baturai Madihin oleh Madihinesia, Gedung Balairungsari Taman Budaya Kalsel, Sabtu (23/8) malam. (Dokumentasi Madihinesia)

Baturai Madihin Panaskan Balairungsari

Diposting pada

BANJARMASIN – Sabtu (23/8) malam, Gedung Balairungsari Taman Budaya Kalsel berubah menjadi gelanggang kata. Dari atas panggung, seniman madihin saling melempar syair, menguji kelincahan lidah dan kecerdasan pikiran. Pertarungan ini dikenal sebagai Baturai Madihin, sebuah format yang dikemas komunitas Madihinesia untuk membuat seni tradisi Banjar itu terasa segar dan dekat dengan generasi sekarang.

Dua kubu—Batur dan Turai—masing-masing diperkuat enam pamadihinan. Seakan berhadapan dalam sebuah ring, mereka tak hanya bermain syair untuk menyerang, tetapi juga bertahan, membalas sindiran dengan kepiawaian bahasa yang membuat penonton bersorak. Sebagai pengendali, hadir dua pamadihinan penengah, menjaga jalannya adu syair tetap seru tapi tak kelewat panas.

Penonton pun larut. Ada yang bertepuk tangan, ada pula yang bersorak mendukung kelompok favoritnya. Hampir dua jam mereka duduk terpaku, namun seolah waktu berjalan cepat. Apalagi ketika para pamadihinan mulai berkreasi melampaui pakem: bosan hanya diiringi tarbang, mereka meluncur ke irama beatbox. Gedung Balairungsari mendadak bergemuruh, seakan Madihin dan musik modern berpadu dalam satu napas.

Ketegangan tak mudah dihentikan. Penengah kewalahan membatasi derasnya syair. Pada akhirnya, Ketua Madihinesia M Budi Zakia Sani naik ke panggung. Dengan suara mantap, ia sendiri menutup pertarungan menggunakan irama madihin. Penonton menyambutnya dengan riuh tepuk tangan, seolah semua ketegangan berubah menjadi rasa lega dan perayaan.

Dalam wawancara usai acara, Zaki menyebut Baturai Madihin sebagai upaya menghidupkan kembali energi lama yang pernah ada. “Baturai Madihin ini bukan barang baru. Dulu pamadihinan biasa melakukan pertunjukan seperti ini. Saya pernah menyaksikan sendiri, bisa berlangsung semalam suntuk, penonton tidak beranjak karena syairnya terus bergulir,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa madihin memiliki kelenturan yang membuatnya tetap relevan. “Madihin adalah seni yang adaptif. Ia bisa berubah mengikuti zaman, tanpa kehilangan rohnya sebagai tradisi Banjar,” tambahnya.

Baturai Madihin hanyalah satu bagian dari Festival Budaya Aruh Madihin yang digelar dua hari oleh Yayasan Banjar Bakula dengan dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIII Kalteng-Sel. Selain pertunjukan pamadihinan, festival juga menyajikan workshop dan dialog interaktif tentang madihin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *