TANAH LAUT — Hadani Had tidak sedang main-main dengan disiplin menulis. Satu tahun, satu buku. Di Angin Tak Berkabar di Angkara Bumi, ia menghadirkan 99 karya: 9 monolog dan 90 puisi. Angka yang rapi, nyaris seperti pernyataan sikap—tentang konsistensi, tentang ketekunan.
Di dalamnya, ada pengalaman-pengalaman yang dekat dan nyata. Termasuk satu yang sulit diabaikan: rumahnya di Bati-Bati yang terendam banjir.
Di tangan penyair, peristiwa seperti ini bisa jadi apa saja. Ia bisa berhenti sebagai kesedihan personal—air naik, rumah tergenang, ingatan hanyut. Tapi ia juga bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih besar: cerita tentang ruang yang rusak, tentang alam yang dipaksa tunduk, tentang manusia yang pelan-pelan kehilangan pijakan.
Di titik ini, puisi diuji. Apakah ia hanya mencatat, atau benar-benar membaca keadaan?
Hadani tampak ingin bergerak. Ia tidak hanya bertahan di puisi, tapi juga masuk ke monolog—bentuk yang memberi ruang suara lebih keras, lebih terbuka, bahkan lebih konfrontatif. Tapi perluasan bentuk tidak selalu berarti perluasan daya dobrak. Monolog bisa saja tetap terasa seperti puisi yang dipanjangkan, jika konflik di dalamnya tidak benar-benar dipertarungkan.
Di sinilah persoalan yang lebih luas muncul. Sastra Kalimantan Selatan, selama ini, cenderung berjalan di jalur aman. Alam, rindu, kampung halaman—semua hadir, tapi sering kali dengan cara yang sudah terlalu akrab. Indah, iya. Tapi jarang benar-benar menggoyang.
Padahal realitas di luar teks terus berubah. Banjir bukan lagi kejadian musiman biasa. Ia membawa cerita tentang tata ruang, tentang lingkungan, tentang kebijakan yang sering tak berpihak. Ini bahan mentah yang keras—dan sastra punya kesempatan untuk mengolahnya jadi sesuatu yang lebih dari sekadar keluh.
Hadani sebenarnya sudah menyentuh pintu itu. Tinggal satu langkah lagi: berani masuk lebih dalam, atau memilih tetap di permukaan.
Rencananya menulis syair dan pantun berbahasa Banjar juga menarik. Ada niat menjaga akar, menjaga bunyi, menjaga ingatan. Tapi di sana juga ada jebakan: tradisi bisa jadi hidup, tapi bisa juga jadi museum kalau hanya diulang tanpa ditarik ke hari ini.
Di antara semua itu, posisi Hadani jadi jelas: ia bukan lagi penulis yang sekadar muncul lalu hilang. Ia sudah menempatkan diri sebagai suara yang konsisten di Banua. Tapi konsistensi saja belum cukup.
Pertanyaan yang tersisa sederhana, tapi penting: apakah karya-karya berikutnya akan tetap nyaman dibaca, atau mulai terasa perlu—bahkan mengganggu?
Karena mungkin, di tengah banjir yang datang berulang, yang dibutuhkan bukan hanya puisi yang indah. Tapi juga puisi yang berani berkata lebih jauh.[]



