Monumen Karya Maestro Misbach Tamrin Dirobohkan, Dewan Kesenian Banjarmasin Tuntut Pemkot Minta Maaf

Diposting pada

BANJARMASIN – Dewan Kesenian Kota Banjarmasin (DK Banjarmasin) mengeluarkan pernyataan sikap resmi menuntut Pemerintah Kota Banjarmasin bertanggung jawab atas hilangnya Monumen Taman Gerbang Kota di kawasan perempatan Jalan Pangeran Antasari, Selasa (29/7/2026). Monumen karya Maestro Misbach Tamrin itu diratakan dalam proses penataan Taman Kota Bamara yang digagas Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin.

Ketua DK Banjarmasin Hajriansyah menyatakan pihaknya menghormati niat baik Wali Kota Muhammad Yamin HR dalam mempercantik wajah kota — namun menegaskan cara yang ditempuh tidak dapat dibenarkan.

“Jika monumen itu sempat lusuh oleh waktu, ia sejatinya merindukan sentuhan perawatan dan konservasi yang bermartabat, bukan kepunahan di bawah dentuman palu besi,” ujarnya.

Bagi DK Banjarmasin, monumen itu bukan sekadar ornamen pemanis sudut jalan. Ia adalah perwujudan visual falsafah gotong royong masyarakat Banjarmasin yang digubah oleh Misbach Tamrin — seniman yang dikenal luas di kancah seni rupa nasional maupun internasional.

Wakil Ketua DK Banjarmasin Sumasno Hadi menyoroti bahwa pembongkaran berlangsung tanpa dialog dengan seniman, budayawan, maupun pakar estetika kota. Keterlibatan kalangan seni sejak awal perencanaan, katanya, penting agar pembangunan tetap memahami konteks historis dan kultural kawasan.

Melalui pernyataan sikap bernomor 045/DK-Bjm/VII/2026, DK Banjarmasin melayangkan empat tuntutan kepada Pemkot Banjarmasin: meminta maaf terbuka kepada warga kota dan kepada Misbach Tamrin secara khusus; mengkritisi absennya pelibatan seniman dalam penataan ruang publik; mendesak Dinas Lingkungan Hidup menghadirkan kembali penanda atau bentuk penghormatan alternatif atas karya Misbach Tamrin dengan melibatkan DK Banjarmasin dan komunitas perupa sejak tahap perencanaan; serta mendorong komitmen tertulis atau regulasi agar pembangunan Taman Bamara selanjutnya mengedepankan konsep humanis di mana modernitas dan pelestarian aset seni budaya berjalan beriringan.

DK Banjarmasin menegaskan, pernyataan ini bukan konfrontasi — melainkan pengingat agar pembangunan fisik kota tidak mengorbankan akar kebudayaan yang telah lama tertanam di Kota Seribu Sungai.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *