BANJARMASIN — Arus konten sejarah di media sosial semakin deras, namun tidak selalu diikuti dengan kualitas dan akurasi yang memadai. Fenomena ini menjadi perhatian dalam workshop penulisan artikel sejarah yang digelar Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarmasin di Hotel Roditha, Kamis (23/4/2026).
Sekitar 60 peserta dari kalangan mahasiswa dan pegiat media sosial mengikuti kegiatan ini, dengan fokus pada peningkatan kemampuan menulis sejarah yang tidak hanya menarik, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan.
Kepala Bidang Kebudayaan Disbudporapar, Emil Salim, menilai tantangan terbesar saat ini bukan lagi minimnya informasi, melainkan bagaimana memastikan informasi yang beredar tetap valid.
“Konten sejarah sekarang mudah dibuat dan disebarkan. Tapi akurasi dan sumber sering kali diabaikan. Ini yang harus diperbaiki,” ujarnya.
Menurutnya, Banjarmasin memiliki banyak kekayaan sejarah yang belum tergarap maksimal, sehingga berpotensi disalahartikan jika ditulis tanpa pendekatan ilmiah.
Sejarawan dari Universitas Islam Negeri Antasari, Mursalin, menegaskan bahwa popularitas di media sosial tidak boleh mengorbankan kebenaran sejarah.
“Apa artinya konten viral kalau isinya keliru. Sejarah itu harus akurat, ada sumber, dan bisa diuji,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa di tengah kemudahan teknologi, termasuk penggunaan Artificial Intelligence, penulis tetap dituntut menjaga integritas karya.
“AI bisa membantu, tapi tidak bisa menggantikan proses berpikir. Kalau hanya menyalin tanpa verifikasi, justru berbahaya,” tegasnya.
Workshop ini mendorong peserta untuk tidak sekadar menjadi kreator konten, tetapi juga penulis yang memahami metodologi sejarah—mulai dari riset, verifikasi sumber, hingga penyusunan narasi.
Di tengah banjir informasi digital, kemampuan memilah fakta dan menyajikannya secara akurat dinilai menjadi kunci agar sejarah tidak berubah menjadi sekadar cerita yang viral, tetapi kehilangan kebenarannya.[]



