Cerita Tokoh Kebangkitan BKPRMI Bartim

Diposting pada

TAMIYANGLAYANG – Sebagaimana di daerah lain, Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Barito Timur (Bartim), Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), juga ikut berperan dalam mengembangkan potensi remaja, khususnya dari kalangan Islam.

Menurut Poniran, ada empat orang tokoh yang berperan dalam kebangkitan BKPRMI Bartim, sejak kabupaten ini berdiri.

Empat tokoh tersebut adalah Poniran sendiri, Darso, Abdul Ghani, dan Abramsyah Kursani.

“Kami berempat, dan tentu saja dibantu sejumlah kawan lainnya, yang pertama kali membangkitkan semangat pergerakan untuk terbentuknya organisasi BKPRMI Bartim ini pada tahun 2008,” katanya kepada Maknanews, Jum’at (28/1/2022).

Menurut Poniran, kala itu niat mereka membentuk BKPRMI adalah untuk memberdayakan dan mengembangkan potensi para pemuda dan remaja di Gumi Jari Janang Kalalawah dalam berkhidmat kepada pembangunan.

“Serta sebagai wadah untuk turut serta mendukung pembangunan, demi tercapainya keadilan yang merata di Kabupaten Barito Timur,” ujarnya.

Poniran lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 16 Mei 1968. Ia telah datang dan menetap di Tamiang Layang sebelum berdirinya Kabupaten Bartim (pemakaran dari Kabupaten Barito Selatan dan Barito Utara).
Poniran mengaku datang ke Tamiyang Layang kala itu untuk merintis usaha batubata merah sebagai bahan matrial bangunan. Yakni pada tahun 1994.

“Setelah Kabupaten Bartim berdiri, saya bersama teman-teman tadi mulai berdiskusi, bagaimana agar kami bisa ikut membantu pemerintah dalam hal membina, mencerdeskan, dan memajukan wawasan bermasyarakat yang didasari cinta agama serta jiwa sosial,” ucapnya.

Dari situ, Poniran bersama teman-temannya, dan didukung lingkungan setempat, memulai perjuangannya.

Poniran sendiri memang sudah aktif berorganisasi sejak masih duduk di bangku madrasyah. Ia pernah aktif dalam organisasi Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU).

Dari madrasyah ini, Poniran mengaku selalu ingat pesan kebaikan dari seorang kyai, bahwa seorang santri haruslah dapat memberikan dampak kebaikan bagi semua orang di mana pun dirinya berada.

“Ingat pesan itulah, ketika tiba di Tamiang Layang, saya mulai berniat untuk mengajarkan ilmu yang bermanfaat dan membawa kebaikan,” katanya.

Untuk BKPRM yang hingga saat ini masih eksis, Poniran menyarankan agar rajin menggelar Festival Anak shaleh Indonesia. Dimulai di tingkat Kecamaran, yang kemudian pemenangnya bisa mewakili dalam seleksi tingkat Kabupaten.

“Sehingga pada pelaksanaan tingkat Kabupaten, pesertanya tidak asal pilih saja oleh para wali murid dan didaftarkan kepada panitia kabupaten,” ujarnya.

Yang terpeting, papar Poniran, ada seleksi. Baik secara tatap muka maupun daring, mengingat sekarang masih pandemi Covid-19.

“Kalau bisa awali dari desa dan kecamatan, terus berlanjut sampai tingkat Kabupaten. Dan harus melibatkan semua Taman Pendidikan Alqur’an di daerah. Jadi jangan tanggung-tanggung seperti sekarang ini, untuk mendapatkan pengkaderan yang baik,” tegasnya.

Poniran menyatakan bersyukur atas partisipasi Bartim dalam seleksi Festival Anak Shaleh XI Tingkat Provinsi Kalteng pada 7-8 Januari 2022 lalu.

“Namun sayang, sejauh ini masih banyak anak yang berpotensi mengharumkan Bartim belum tergali,” ucapnya.[]

 

Editor : Almin Hatta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *