Di tengah era shuffle dan algoritma, musik dari masa lalu justru kembali naik ke permukaan. Vinyl tua diputar ulang. Lagu […]
Penulis: Stefanus Yonathan
Hobi Bikin Tenang: Orang-Orang yang Mulai Balik Lagi ke Kerajinan Tangan
Di tengah hiruk-pikuk notifikasi dan tuntutan multitasking, banyak orang muda kini mulai berpaling ke hal-hal kecil yang pelan. Tak sekadar […]
Pelan Aja, yang Penting Jalan: Filosofi Baru Orang Muda yang Lebih Tenang
Di tengah dunia yang diburu target dan ketergesaan, semakin banyak anak muda yang mulai menarik napas dan memilih untuk berjalan […]
Ngecat Dinding Sendiri, DIY Terapi yang Diam-Diam Disukai Banyak Orang
Di tengah tekanan hidup yang kadang bikin napas pendek dan pikiran penuh, mengecat dinding kamar sendiri tiba-tiba jadi pelarian yang […]
Ruang Sendiri: Tempat Pelarian yang Nggak Harus Dicari ke Mana-Mana
Di tengah dunia yang makin bising, sibuk, dan penuh tekanan, banyak orang mulai sadar: mereka butuh ruang. Tapi bukan ruang […]
Pelarian ke Hidup Lambat, Gaya Slow Living Makin Digemari di Tengah Dunia Serba Ngebut
DUNIA boleh terus ngebut, tapi sebagian orang memilih untuk berhenti, menarik napas dalam-dalam, dan kembali pada ritme yang lebih lambat. […]
Buku Anak 90-an Kembali Viral, Nostalgia Jadi Pelarian Paling Hangat di Tengah Dunia Serba Cepat
Dari rak-rak buku yang sempat berdebu, kini mereka kembali bersinar di linimasa digital. Buku-buku anak era 90-an seperti Lima Sekawan, […]
Kebisingan Digital Kian Menyesakkan, “Konten Hening” Jadi Pelarian Baru Netizen
DUNIA digital yang semula dirancang sebagai ruang berbagi dan hiburan kini mulai dipandang sebagai sumber kebisingan yang memekakkan. Di tengah […]
Back to the Groove: Saat Musik 80-an Menemukan Rumah Baru di Telinga Anak Muda Banjarmasin
Musik era 80-an kembali ramai diputar, bukan hanya oleh mereka yang hidup di masanya, tapi justru oleh anak-anak muda generasi […]
Dalam Nama Hawa, Episode 7: Anak-Anak dari Kehilangan
Kami tak lagi muda. Tapi di matamu, aku masih melihat cahaya dari pohon pertama. Bukan yang tumbuh di surga—melainkan […]










