Memuai Untung dan Berkah dari Madu Asli Meratus

Diposting pada

Berbisnis madu bagi Anita Permata bukan hanya untuk membuat kaya semata. Lebih dari itu, ada berkah yang dituai pada setiap tetes madu yang dijualnya.

Bisnis madu, baru digeluti Anita sejak kurang lebih tiga tahun yang lalu. Kisahnya dimulai ketika ia hijrah dari kampung halaman mendekati pusat ekonomi Balangan.

Anita berasal dari Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan. Salah satu daerah andalan Bumi Sanggam dengan alam dan budayanya.

Di Halong, orang sudah kenal jika di tempat itu banyak madu berkualitas. Diambil langsung dari alamnya yang asri. Kegiatan memuai madu bahkan sudah jadi tradisi turun temurun warga di sana.

Pesanan datang pada Anita. Banyak yang minta bawakan madu asli meratus dari Halong. Bisnis dimulai.

Anita rupanya seorang mualaf. Dari sebuah ceramah, ia mendengar jika madu merupakan salah satu obat herbal yang dianjurkan agama Islam.

Memanfaatkan khasiat cairan dari hewan lebah dan sejenisnya itu dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Akibatnya, bisnis madu pun semakin mantap ditekuni Anita.

Untung pun dibagi Anita pada orang di kampung halamannya. Pemuai madu jadi lebih pasti menjual harus ke mana.

Belakangan, madu dikemas Anita menjadi lebih menarik. Dibanding menggunakan botol bekas, kemasan madu semakin lebih meyakinkan.

Diakui Anita, harga madu sekarang sudah naik drastis. “Dulu kasian harga madu cuma 35 ribu rupiah per liter. Sekarang sudah 200 ribu ke atas,” kata Anita.

Madu Halong yang dijual Anita laku keras. Bukan hanya warga Balangan yang membeli, produknya sudah sampai luar daerah. Sebut saja Bali, Jakarta, dan kota besar lainnya. Dari situ, omsetnya sudah mencapai 10 juta rupiah tiap bulan.

Laris manis usaha madu tak membuat Anita lupa pada orang sekitar. Setiap 2.000 rupiah penjualan madu, disisihkan untuk yatim piiatu.

“Ke depan juga kaum duafa,” ucapnya.

Sayangnya, ada saja aral yang ingin mengganggu bisnis madu. Anita berkeluh, dirinya sempat mendengar gosip tak sedap. Diedarkan oleh orang ingin menempuh jalan pintas meski tak pantas.

“Ada gosip madu menghisap mayat,” ujar Anita.

Dengan isu itu, harga madu sempat turun drastis. Yang disinyalir menyebar gosip tampaknya mengambil untung. Madu dibelinya dengan murah, mereka jual dengan harga tinggi di luaran.

Lagi-lagi keyakinan Anita pada Islam membuatnya kuat. Madu menurutnya disebut dalam Alquran. Khasiatnya tak perlu diragukan.

“Kualitas madu sesuai kualitas alam,” ucap Anita lagi. Ia meyakinkan jika kualitas lingkungan di Halong masih terjamin keasriannya.

Anita berharap, pemerintah lebih mendorong bisnis yang ia geluti. Apalagi, itu mengangkat kearifan lokal setempat.

Sejauh ini, Anita numpang promo di berbagai kegiatan yang memberi kesempatan padanya untuk memajang produknya. Selebihnya lewat jaringan media sosial (online).

Produk madu Anita bisa dinikmati langsung di kedai miliknya.Tempatnya tak susah ditemui. Datang saja ke Desa Batu Piring, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan.

Tepat di pinggir jalan trans Kalimantan. Dari Banjarmasin letaknya di sebelah kanan. Tak jauh setelah Kantor Polres Balangan. Kedai Anita namanya. (man)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *