Kita tentu sering mendengar atau menyaksikan sebuah tradisi membersihkan kampung. Pada kebiasaan budaya dulu hingga sebelum Covid-19 datang, hampir setiap tahun ada berpuluh bahkan ratusan upacara ritual budaya dilangsungkan.
Tujuan dari upacara ritual tersebut pada dasarnya adalah untuk mengusir atau mengakhiri munculnya bala, penyakit, hama, dan hal-hal yang tidak baik. Membersihkan di sini erat hubungannya menyatukan hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, serta hubungan antar manusia dan alam.
Saat Covid-19 ini menyerang, hampir tidak terdengar ritual-ritual berbasis budaya atau keagamaan dilangsungkan agar penyakit ini hilang. Bahkan kenyataannya kemudian ritual-ritual tersebut yang biasanya dilakukan setiap peristiwa tertentu kemudian ditiadakan. Hal semacam ini seperti bertolak belakang dengan kebiasaan masyarakat yang selalu melakukan prosesi budaya ritual yang merupakan bagian dari kepercayaan masyarakat untuk menyikapi sesuatu hal yang tidak baik dan berharap untuk mendatangkan kebaikan. Kekuatan mistisisme masyarakat kemudian seperti tergusur kepada hal-hal yang lebih kuat secara nalar befikir mayoritas masyarakat lainnya.
Dulu, Geertz menyatakan bahwa religi merupakan pancaran kesungguhan moral. Hal ini juga diperkuat dengan pemikiran Tolstoy yang berpendapat bahwa mistik bersifat tak tertandingi. Di dalamnya menancap iman. Keimanan penyebabkan seseorang hidup dan laku mistik penuh dengan moral luhur.
Bagi masyarakat tradisional yang ekspresif, mereka tidak terlalu memperdulikan akan adanya perkembangan ilmu pengetahuan, karena relevansi hubungan mereka yang mistik terhadap apa yang mereka percayai merupakan sebuah capaian keimanan yang tinggi dan kuat. Sehingga kemudian banyak kita jumpai di komunitas-komunitas tradisional kekuatan ritus-ritus mereka melebihi penalaran-penalaran ilmiah sains sekalipun.
Kenyataan di atas kemudian baik yang dikemukan gertz maupun Tolstoy terbantahkan di masa pandemi ini. Masyarakat budaya ekspresif tradisional ini kemudian mendapatkan hantaman nalar ilmiah. Hantaman ini berupa protokol-protokol kesehatan yang membuat kegiatan ritual yang berbasis upacara massal tidak bisa dilaksanakan seperti biasanya. Terbantahkan di sini dalam hal bahwa simbol-simbol komunitas tradisional yang memiliki beragam tradisi upacara bersih kampung harus mengalah dengan mengganti ritual-ritual tersebut kemungkinan dilakukan secara individu (tertutup).
Tergerusnya kepercayaan yang bersifat mistis ini salah satunya adalah dilatarbelakangi oleh begitu kuatnya perkembangan ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi. IPTEK berhasil membuat pembenaran-pembenaran yang ilmiah terhadap berbagai kasus dan masuk ke wilayah-wilayah budaya tersebut. Banyak kemudian kasus-kasus yang berkaitan dengan penyakit mendapatkan penalaran yang relevansi logikanya lebih kuat dari pada sekedar mitos-mitos yang mendasari kemunculan persoalan (penyakit tersebut). Perlahan kemudian masyarkat yang mengalami perkembangan cara berfikir dan mengalami perubahan pola berfikir akan lebih memetingkan hal-hal yang masuk dengan penalarannya.
Perubahan sudut pandang masyarakat yang terjadi sekarang adalah sebuah bentuk dari pergerakan menuju sebuah tatanan baru. Bentuk-bentuk yang tergambar adalah dari cara berfikir masyarakat yang telah berada atau menjadi masyarakat modern. Masyarkat yang sangat mementingkan fakta dan logika yang bisa diterima oleh akal fikirannya.
Pada konteks ini bukan berarti masyarakat modern tidak percaya Tuhan, namun mereka lebih melihat apa yang bisa dilakukan sedini mungkin sesuai dengan fakta-fakta temuan di lapangan. Pada dasarnya sebenarnya masyarakat tidak sedang kehilangan kepercayaannya, namun lebih mengutamakan konteks realitas yang terjadi di masyarakat luas. Oleh karenanya kemudian ritual-ritual tersebut banyak dilakukan secara individu atau dengan kelompok yang paling kecil (keluarga).
Masyarakat budaya ekspresif tradisional seperti kehilangan daya magis mistisnya untuk mencegah virus ini memasuki wilayah-wilayah budaya mereka. Mereka kebanyakan akhirnya memilih mengikuti nalar ilmiah atau isu-isu yang berkembang di tengah perkotaan (mayarkat modern).
Covid-19 tidak hanya memporak-porandakan kesehatan, ekonomi, agama bahkan budaya. Namun dari masa pamdemik ini pula kita bisa melihat terjadinya perubahan budaya besar-besaran.
Menjadi sebuah pertanyaan yang bisa kita cari jawabannya bersama kemudian tentang judul tulisan ini, yaitu kemana ritual-ritual kampung itu? Bagaimana masyarakat budaya ekspresi tradisional menyikapi wabah besar covid-19 ini?
Banjarbaru, 25 Mei 2020
Penulis: Novyandi Saputra (Direktur Artistik NSAPM)



