Banjir, Petani Kabupaten Banjar dan Tala Rugi Jutaan Rupiah 

Banjir, Petani Kabupaten Banjar dan Tala Rugi Jutaan Rupiah 

Diposting pada

Editor : Almin Hatta

BANJARBARU – Curah hujan yang tinggi mengakibatkan sebagian wilayah di Kalimantan Selatan dilanda bencana banjir. Tak hanya pemukiman warga yang terendam air, namun lahan pertanian pun ikut terkena dampaknya.

Petani yang terkena dampak banjir ini berada di dua kabupaten. Yakni di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut. 

Dampak dari banjir yang menerjang dan menenggelamkan lahan pertanian pangan tersebut, dipastikan merugikan para petani. Terutama pertanian tanaman pangan seperti padi dan hortikultura.

Menyikapi hal ini, Dwi Kurniawan selaku Ketua SPI Wilayah Kalsel, angkat suara. “Kalau untuk kerugian petani itu yang pasti ada dua. Pertama, rumah tinggal mereka yang terendam air. Kedua, lahan pertanian mereka, khususnya tanaman holtikultura seperti cabai, jagung, tomat, dan lainnya pun ikut terendam,” tuturnya. 

Sampai tanggal 12 Januari 2021, menurut data dari anggota Serikat Petani Indonesia, di Kabupaten Banjar dan Tanah Laut, sudah tercatat kerugian untuk lahan pertanian ini antara Rp 4 juta sampai Rp10 juta per petani, akibat banjir ini. 

Angka di atas belum termasuk kerugian di tempat penyimpanan benih padi dan produk holtikultura di tempat tinggal petani yang terendam banjir. 

“Kalau masalah lahan padi masih aman. Tapi mereka menyimpan benih di rumah dan itu harus diselamatkan,” ucap Dwi Putra Kurniawan saat dihubungi melalui telepon, Rabu (13/1). 

Dwi menuturkan, petani harus mengangkat benih yang ada di tempat tinggalnya ke tempat yang lebih aman atau tinggi. “Karena rumah yang terendam, jadi petani itu harus mengangkut benihnya ke tempat yang lebih tinggi atau aman dari banjir. Namun hal ini masih belum dilihat oleh Pemerintah maupun Dinas terkait,” katanya. 

Hal ini tentu menjadi catatan bagi Serikat Petani Indonesia (SPI) Kalsel,  bahwa SPI bersama pemda harus mencari solusi untuk menyelamatkan petani dari kerugian. “Kami pun turut menyoroti perihal ini. Kita harus menyelamatkan bibit-bibit tanaman, serta perbaikan terhadap sarana prasarana pertanian yang ada,” tandas Dwi.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *