Editor : Almin Hatta
BANJARMASIN – Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak (DP3A) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mencatat, sebanyak 252 perempuan dan anak di Kalsel sepanjang tahun 2021 menjadi korban kekerasan.
Data tersebut diungkapkan Husnul Khatimah selaku Kepala Dinas DP3A Provinsi Kalsel, saat ditemui di sela acara Temu Forum Anak Daerah (FAD), Senin (4/10) lalu.
“Kalau kita melihat data, ya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kalsel ini mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya,” katanya.
Dilihat dari data yang ada, papar Husnul Khatimah, di tahun 2020 angka kekerasan perempuan dan anak berada di angka 273 kasus, yang terdiri dari 193 korban anak dan 232 korban perempuan. Sedangkan di tahun ini kasus menurun menjadi 252 kasus, yang terdiri dari 180 korban anak-anak dan 205 korban perempuan.
Menurut Husnul, penurunan angka kasus kekerasan perempuan dan anak ini dikarenakan masih banyaknya korban yang belum melapor.
“Kemungkinan korban masih ada yang belum melapor untuk kasus kekerasan ini,” ujarnya.
Walaupun terjadi penurunan angka kekerasan, pandemi kali ini juga menjadikan salah satu faktor meningkatkanya kekerasan perempuan dan anak di masa pandemi.
“Karena di masa pandemi sekarang ini kan anak-anak sekolah online. Jadi kemungkinan terjadinya kekerasan itu ada,” ucapnya.
Sebagai informasi, di tahun 2021 Kota Banjarmasin menjadi jawara dalam angka kekerasan perempuan dan anak, dengan rincian 31 korban anak perempuan dan 21 korban anak laki-laki. Sedangkan untuk perempuan berada di angka 26 korban.[]



