Oleh: Almin Hatta
DALAM lakon kehidupan ini, soal rezeki benar-benar misteri. Ada orang yang telah bekerja teramat keras siang malam, tapi ternyata pendapatannya tetap saja cuma sekadar cukup untuk makan. Sebaliknya, ada orang yang kerjanya santai-santai saja, eh malah cepat kaya. Ada orang yang berpendidikan tinggi, eh malah jadi kuli. Di pihak lain, ada orang yang cuma tamat SMP justru menjadi anggota DPRD.
Karena itulah Imam Syafii dengan masygul menyatakan, “Jika dengan akalmu engkau dapat memperoleh apa yang engkau inginkan, maka tak akan engkau dapati orang yang diberi rezeki.”
Berkaitan dengan misteri pembagian rezeki ini, ada cerita lama yang layak untuk kita renungi. Cerita yang kembali dirilis Nashiruddin dalam bukunya bertajuk Nawadhir Juha al-Kubra ini mengisahkan tentang sufi kenamaan, Nasharuddin, yang bertemu sejumlah anak sedang kebingungan membagi sekantung buah pala (dalam cerita lama disebut buah kurma).
Karena belum pandai berhitung, anak-anak tersebut minta tolong kepada Nasharuddin untuk membagikan buah pala tersebut. Nasharuddin lalu bertanya, mau pembagian cara Allah atau pembagian cara manusia. Anak-anak itu serempak menjawab, “Pembagian dengan cara Allah.”
Nasharuddin lalu membagi-bagi sekantung pala itu kepada semua anak tersebut. Ada yang diberinya dua genggam, ada yang segenggam, ada yang beberapa butir, dan bahkan ada seorang anak yang diberinya satu butir pala saja.
Usai mendapatkan bagian masing-masing, anak-anak itu belum juga mau beranjak. Mereka justru menatap Nashruddin yang diyakini sebagai orang pandai lagi bijaksana itu dengan mimik keheranan. “Pembagian macam apa ini, sama sekali tak adil,” kata mereka secara bersamaan.
Nashruddin pun tersenyum, lalu menyebut nama-nama sejumlah orang kaya di situ, kemudian nama-nama orang yang biasa-biasa saja, dan terakhir ia menyebut nama-nama orang tak berpunya. “Begitulah wahai anak-anak, cara Allah membagikan rezekinya yang berlimpah,” ujarnya.
Anak-anak kecil itu tentu tak sepenuhnya mengerti, tapi kita yang membaca cerita ini tentu sangat memahami bahwa Allah punya pertimbangan tersendiri dalam membagi-bagi rezeki kepada segenap penghuni dunia ini.
Tapi, apa pertimbangan dari Tuhan yang Maha Adil ini tentu saja tak seorang pun yang dapat memahami. Dan selamanya soal rezeki ini akan menjadi misteri. Sebab, sebagaimana disebutkan di atas tadi, intensitas atau volume kerja seseorang tak selamanya berbanding lurus dengan penghasilan yang ia dapatkan.
Meski demikian, setiap kita tetap saja wajib bekerja. Sebab, rezeki tak akan diberikan oleh Tuhan yang Mahakaya kepada orang cuma berpangku tangan saja. Tokh begitu, Imam Syafii masih juga mengingatkan, “Ke mana pun aku pergi, rezeki Allah selalu mengunjungiku walaupun aku tidak memintanya. Tak mungkin ada kehidupan tanpa rezeki, sebab Dia selalu membagikan rezeki.”***



