Kami tak lagi muda.
Tapi di matamu, aku masih melihat cahaya dari pohon pertama.
Bukan yang tumbuh di surga—melainkan pohon kehidupan,
yang kini berdiri di tengah ladang luka dan peluh.
Anak-anak kami tumbuh di tanah yang pernah kami kutuki dengan air mata.
Kain dan Habel—nama-nama pertama yang kami ucapkan dengan cinta dan rasa takut.
Kami memberi mereka bentuk,
tapi bukan arah.
Kami mengajarkan mereka berbicara,
tapi tidak tahu kata-kata mana yang bisa menyelamatkan mereka dari sesamanya.
“Lihatlah, ini dunia yang diwariskan cinta dan kesalahan.”
Dan mereka mewarisinya lebih cepat dari yang kami bayangkan.
Hari itu datang tanpa isyarat.
Langit tetap biru, angin tetap tenang,
tapi dadamu… dadamu pecah tanpa suara.
“Habel tak pulang,” katamu.
Dan aku tahu: bumi kini mengenal kehilangan.
Kami menemukan tubuhnya di ladang.
Wajahnya damai—seolah belum tahu ia telah tiada.
Tapi darahnya… darahnya berbicara dari tanah.
Tanah yang pernah menolak kami kini menelan daging dari darah kami sendiri.
Dunia telah belajar membunuh—dan pelajaran itu datang terlalu dini.
Sejak hari itu, engkau berhenti bernyanyi.
Engkau tak lagi menoleh saat matahari terbit.
Setiap pagi kau duduk di bukit, menatap langit.
Bukan untuk meminta surga dikembalikan,
tapi untuk bertanya:
“Apakah kita sudah terlalu jauh dari-Nya?”
Aku duduk di sisimu.
Engkau bersandar di bahuku seperti pada hari pertama kita terusir dari taman.
Lalu kau bertanya, dengan suara kecil seperti akar retak:
“Jika dulu aku tak memakan buah itu…
apakah Habel akan tetap hidup?”
Aku tak menjawab.
Karena aku tahu:
Yang mati bukan hanya anak kita.
Yang terkubur adalah bagian dari kita yang masih percaya bahwa dunia bisa bersih kembali.
Namun aku tetap menggenggam tanganmu.
Dan dalam genggaman itu,
aku tahu:
meski dunia menua,
meski luka tak bisa dihapus,
aku tidak menyesal telah jatuh.
Karena aku jatuh dalam nama Hawa.
Dalam cintamu yang memilih tetap tinggal,
bahkan saat surga tak lagi membuka pintu.
Kami hidup.
Kami bertahan.
Kami mencintai dengan tubuh yang kini dimakan usia.
Dan dari cinta itu, lahirlah manusia lain,
anak dari rasa sakit,
anak dari harapan.
Dan suatu hari, jika anak-anak kita bertanya:
“Siapakah kami, dan dari mana kami berasal?”
Maka biarlah mereka tahu:
Kami berasal dari pelukan di tanah yang terkutuk,
dari luka yang tidak membunuh,
dan dari cinta yang tak pernah berhenti memilih satu sama lain.
—TAMAT—



