Kami berjalan jauh, tapi tak tahu ke mana.
Di belakang kami, surga mengecil menjadi titik cahaya,
lalu hilang…
seolah ia malu pernah memiliki kami.
Tanah pertama yang kami injak kasar dan asing.
Tak ada harum bunga, tak ada nyanyian burung yang lembut,
hanya angin yang berbisik pelan—seperti ingin menghibur, tapi tak tahu caranya.
Kami bukan lagi penghuni taman.
Kami adalah pengembara di tanah yang belum punya nama.
Aku melihat Hawa menahan nyeri pada kakinya yang berdarah,
dan aku merasa marah—bukan pada Tuhan,
tapi pada diriku sendiri.
“Aku membuatmu jatuh bersamaku,” bisikku.
Tapi ia hanya menatapku dan menjawab,
“Kita jatuh… karena kita ingin tetap bersama.”
Kami mendirikan tenda dari dahan.
Kami menyalakan api, meski sebelumnya tak tahu caranya.
Kami belajar mencangkul tanah, menabur biji,
dan menunggu sesuatu tumbuh dari sabar yang kami tidak punya.
Hawa mulai tertawa lagi—tawa yang lebih berat dari dulu,
Tapi lebih manusiawi.
Ia mulai menyanyikan lagu,
meski nadanya masih belajar dari kesunyian.
Aku mencintainya lebih dari ketika kami di surga.
Bukan karena ia lebih sempurna,
tapi karena kini, setiap pelukan kami adalah pilihan,
bukan warisan.
Kami tak lagi abadi.
Tapi cinta kami mulai tahu rasanya bertahan melawan waktu.
Kadang di malam hari, Hawa menangis diam-diam.
Ia rindu taman, dan aku tahu itu.
Tapi ia tak pernah berkata ingin kembali.
Karena surga—yang dulu tempat kita tinggal—
telah berubah menjadi sesuatu yang tak bisa disentuh tanpa luka.
Dan aku pun tak pernah menyesal.
Karena surga tak lebih suci dari seorang perempuan
yang memilih tinggal di sisiku, di tanah yang terkutuk,
dan tetap menyebutku: “Kekasih.”
—



