Oleh Almin Hatta
SUATU ketika, ratusan tahun silam, Damaskus dilanda musim kering dan kelaparan yang luar biasa. Sufi pengelana sekaligus sastrawan ternama, Syekh Sa’di Syirazi, menggambarkan keadaan yang sangat mengenaskan itu dengan kalimat-kalimat yang teramat sendu sarat makna.
Kelaparan yang teramat dahsyat itu, tulis Sa’di lewat bukunya “Bustan”, sampai-sampai membuat para pecinta lupa akan cintanya. Langit begitu kikir terhadap bumi, membuat sawah dan pepohonan kering-kerontang. Sumber-sumber air mengering, tidak ada air yang tersisa kecuali air mata anak yatim. Bagaikan pengemis, pepohonan berdiri tanpa daun, dan gunung-gunung kehilangan semak-belukarnya. Jutaan belalang melahap perkebunan, dan orang-orang kemudian melahap belalang.
Saat itulah, papar Sa’di, seorang temannya datang dengan tubuh yang cuma tersisa tulang wajahnya saja. Sufi ini pun terheran-heran, sebab temannya itu adalah orang kaya yang tak mungkin ikut pula terimbas musim kering yang menyiksa.
Maka, Sa’di pun bertanya, “Hai teman, bencana apakah yang telah menimpamu sampai terjadi sedemikian rupa?”
Si teman pun menjawab dengan kesal, “Di mana akal sehatmu? Apakah engkau tidak melihat bahwa kelaparan sudah demikian parahnya? Hujan tidak lagi turun dari langit, dan juga ratapan penderitaan tidak lagi sampai ke langit….”
“Tapi, kamu kan tak perlu takut. Sebab, racun hanya dapat membunuh jika tidak ada penawarnya,” sela Sa’di.
Mendengar itu, temannya tentu kian kesal saja. ”Walaupun seseorang bisa selamat sampai di tepian, tapi ia tidak dapat berdiam diri ketika teman-temannya tenggelam di tengah lautan. Penderitaan kaum miskin telah membuat luka di hatiku yang terdalam,” ujarnya, sambil berlalu dalam diam.
***
Sekarang, di negeri kita ini harga barang-barang kebutuhan hidup terus naik sedemikian rupa. Kebetulan, sekarang ini sedang menjelang bulan Ramadhan. Maka lengkaplah sudah penderitaan mereka yang kurang berpunya.
Memang, kondisi masyarakat kita sekarang tak sampai separah cerita Sa’di di atas. Air masih mengalir deras, dan belum terdengar jeritan orang kekurangan beras. Tapi, agaknya, kepincangan kehidupan sudah sedemikian terasa. Di sisi lain ada banyak orang yang kelewat kelebihan harta, sementara di sisi lainnya sudah tak terhitung lagi jumlah orang yang tak berpunya.
Karena itu, cerita di atas sangat pantas untuk kita renungkan. Terutama apa yang telah dilakukan orang kaya teman Sa’di yang sangat tepat dijadikan teladan. Jangan sampai kita cuma selamat sendirian di sumur kenikmatan, sementara yang lainnya karam di lautan kesusahan. Lagi pula, apa enaknya kalau hidup cuma sendirian? Jadi, mari tumbuhkansuburkan kepedulian terhadap sesama saudara kita yang sedang kesusahan.***



