Grand Prix MotoGP Mandalika: Positif atau Negatif bagi Indonesia?

  • Whatsapp
ilustrasi

APA yang terlintas dalam benak kalian saat pertama kali mendengar nama daerah Mandalika? Apakah pemandangan alam Lombok yang indah berupa pantai, pegunungan, atau sanggaraloka? Kuliner-kuliner daerah Lombok yang terkenal lezat dan pedas? Suku Sasak yang merupakan penduduk asli Lombok? Atau Gunung Rinjani yang merupakan gunung api tertinggi kedua di Indonesia?

Baru-baru ini dunia MotoGP tercengang oleh sosok Rara, pawang hujan yang mengadakan ritual menghentikan hujan di Mandalika. Publik dunia dipertontonkan ritual menghentikan hujan oleh Rara. Hal ini cukup menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat dalam negeri sendiri. Sebagian orang menyayangkan keputusan pelaksana MotoGP Mandalika, tetapi sebagian yang lain tidak mempermasalahkannya. Sebagaimana segala sesuatu selalu memiliki sisi positif dan negatif, seperti halnya kontroversi Rara, pawang hujan Mandalika. MotoGP Mandalika sendiri tentu memiliki dampak positif dan negatif bagi Indonesia.

Pembangunan sirkuit Mandalika untuk MotoGP merupakan salah satu bentuk perubahan sekaligus kemuajuan bagi Negara. Adanya Sirkuit Mandalika untuk gelaran balap bergengsi seperti MotoGP dan World Superbike (WSBK) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) atau The Mandalika, Lombok Tengah, NTB diyakini bisa memberi dampak bagi kemajuan ekonomi masyarakat serta keberadaan budaya Lokal.

Selama pandemi, sektor pariwisata mengalami kemerosotan pendapatan. Namun, dengan dihelatnya ajang balap motor MotoGP di Mandalika ini meningkatkan pendapatan di sektor pariwisata. Industri pariwisata memiliki dampak ganda, selain penginapan, kuliner dan transportasi juga akan mengalami peningkatan pendapatan selama MotoGP Mandalika dihelat. Bayangkan jika ada ribuan orang datang berbondong ke Lombok untuk mendukung terlaksananya acara besar tersebut. Ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia di Mandalika merupakan momentum yang sangat baik untuk Indonesia di kancah internasional, karena acara ini disiarkan secara langsung di lebih dari 200 negara, 428 juta rumah tangga, dan 7 juta penonton. Diharapkan, acara ini bisa menimbulkan multiplier effect yang baik bagi Indonesia.

Di atas semua hal positif yang terwujud, tetap ada dampak negatif di balik berlangsungnya kejuaraan besar ini. Pertamina Grand Prix of Indonesia ini tentu menjadi kebanggaan bagi masyarakat Indonesia, terlebih acara balapan MotoGP terakhir kali dilaksanakan di Indonesia pada 1997 atau sekitar 25 tahun lalu. Untuk itu, diharapkan acara ini menjadi momentum untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki kemampuan mengelola dampak pandemi yang sangat baik.

Namun, faktanya pandemi di Indonesia hingga saat ini masih mencapai angka belasan ribu. Bahkan, beberapa sekolah di Indonesia masih menetapkan PTM 50% untuk siswanya. Hal ini jelas mengganggu kegiatan belajar mengajar. Kita ketahui bersama bahwasanya WNI yang ingin menonton langsung di gelanggang Sirkuit Mandalika tidak diwajibkan untuk tes antigen/PCR dengan syarat berlaku bagi yang sudah menjalankan dua kali vaksinasi. Sedangkan, para pemudik Idul Fitri mendatang justru diwajibkan untuk tes antigen/PCR, walaupun ada pengecualian bagi yang sudah menjalani booster vaksin. Hal ini menyatakan bahwa angka kasus Covid-19 di Indonesia dapat saja meledak sewaktu-waktu, hingga nanti berdampak pada hari-hari besar keagamaan seperti hari raya Idul Fitri bagi umat Muslim.

Berkurangnya SDA (Sumber Daya Alam). Sumber daya alam adalah segala sesuatu yang terkandung atau yang terdapat di alam. Hal ini dikarenakan setiap pembangunan pasti akan menimbulkan adanya daerah yang digusur atau pergeseran lahan. Seperti halnya untuk pembangunan sirkuit mandalika yang mengharuskan adanya penebangan/penggundulan hutan untuk jalan. Demikian juga mayoritas bahan baku pembangunan untuk sirkuit tersebut yang berasal dari alam seperti material tanahnya.

Yang terakhir adalah pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan adalah masuknya limbah hasil kegiatan manusia ke dalam suatu wilayah tertentu sehingga kualitas lingkungan wilayah tersebut menjadi tidak sesuai lagi dengan peruntukannya. Dengan adanya pembangunan sirkuit mandalika bisa terjadi pencemaran lingkungan dari hasil pembangunan yang dilakukan. Pembangunan lintasan sirkuit mandalika menyebabkan polusi udara karena debu dari hasil perataan pembangunan.

Pada intinya, setiap perubahan memiliki dampak negatif dan dampak positifnya masing-masing. Semua ada pada porsinya tersendiri. Tetapi dengan perubahan kita bisa menuju masa depan yang gemilang. Perubahan merupakan keputusan. Beberapa dari perubahan akan menimbulkan kerugian, tetapi itulah risiko dari keputusan. Ini adalah arti dari prinsip perbuatan. Maka dari risiko kita mendapatkan pembelajaran.

Penyusun: Eliza Puteri Azzahra, Aulia Cipta Zahra, Fakhriatun Nisa, Hasanuddin

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.