Kemana Perginya Minyak Goreng?

  • Whatsapp
ilustrasi

POLEMIK harga dan ketersediaan minyak goreng terus menjadi sorotan dan gaduh di kalangan pedagang maupun ibu rumah tangga akhir-akhir ini. Mulai dari permainan harga, penimbunan produk, hingga menyebabkan minyak goreng langka di beberapa daerah. Padahal pada 1 Februari lalu, pemerintah sudah menetapkan harga eceran tertinggi dan kini berlaku untuk jenis tiga minyak yang di subsidi. Untuk kemasan curah harganya Rp 11.500/liter, kemasan sederhana Rp 13.500/liter, dan kemasan premium harganya Rp 14.000/liter. Namun, nyatanya di lapangan, harga dan keberadaan minyak goreng masih tidak sesuai dan masih langka di berbagai daerah. Sebenarnya apa sih faktor utama yang membuat minyak goreng menjadi langka? Kalau ada pun harganya cukup mahal. Mengapa permasalahan minyak goreng ini belum juga usai?

Banyak yang menilai bahwa kelangkaan minyak goreng disebabkan keterbatasan kelapa sawit. Selain itu, ada yang menyebutkan kenaikan harga minyak karena harga internasional yang naik cukup tajam. Panen sawit yang menurun juga menjadi salah satu faktor penyebab. Sehingga ketika ketersediaan tidak sebanding dengan permintaan, minyak goreng menjadi langka. Hal ini dibuktikan ketika kita melihat di pasaran banyak masyarakat yang membeli minyak goreng secara berlebihan, lebih besar dari kebutuhannya. Aksi ini menyebabkan stok minyak goreng menipis di pasaran. Kemudian hal ini, terus menerus dihembuskan ke telinga masyarakat, masyarakat yang terpengaruh lalu melakukan hal yang sama. Sehingga masalah ini tidak dapat terselesaikan dengan mudah.

Faktanya Kenaikan harga minyak goreng saat ini dipengaruhi oleh harga crude palm oil (CPO) dunia yang naik menjadi US$ 1.340/MT. Kenaikan harga CPO ini menyebabkan harga minyak goreng ikut naik cukup signifikan. Persoalan lain muncul dari penimbunan minyak goreng di dalam negeri, seperti penimbunan minyak goreng di Gudang PT Salim Ivomas Pratama Tbk. Pihak kepolisian menemukan tumpukan minyak goreng d itengah kelangkaan yang terjadi saat ini. Sebanyak 1.138.361 kg minyak goreng tersimpan di gudang perusahaan tersebut.

Seharusnya konsumen dan pemerintah bekerja sama dalam melakukan upaya agar kelangkaan dan mahalnya minyak goreng ini bisa terselesaikan. Salah satu solusi yang dapat dilakukan sebagai konsumen minyak goreng adalah dengan berhemat dalam menggunakan minyak goreng serta tidak menyebarkan isu-isu kelangkaan minyak goreng agar tidak menyebabkan terjadinya panic buyying. Kemudian setidaknya ada tiga hal yang harus diupayakan oleh pemerintah. Dengan penerapan tiga hal tersebut, diharapkan kelangkaan minyak goreng dalam negeri bisa teratasi. Pertama, menaikan pajak ekspor minyak goreng. Kedua, relaksasi (mengendurkan) kebijakan biodisel 30%. Ketiga, melakukan operasi pasar minyak goreng, seperti memastikan produsen menyuplai kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu. Dengan begitu permasalahan kelangkaan dan harga minyak goreng yang mahal di dalam negeri bisa terselesaikan.

Penyusun: Alya Permatasari, Ayi Deas Ramadiah, Maimunah Cahyani, Mohammad Zulkarnain Abdilah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.