ilustrasi:AI

Pohon Semakin Sedikit, Suhu Makin Panas: Kota Kita Makin Gersang?

Diposting pada

Siang itu, Wati (37), warga Banjarmasin, kembali menyiram pohon mangga di depan rumahnya. Bukan karena sedang berbuah, tapi karena ia merasa halaman rumahnya semakin “mendidih” tiap siang hari. “Sebelum ada pohon ini, panasnya bisa kayak dibakar,” ujarnya sambil mengelap keringat.

Wati bukan satu-satunya. Banyak warga perkotaan kini mengeluhkan suhu harian yang kian menyengat. Salah satu penyebab yang mulai banyak disadari: tutupan pohon yang kian menghilang dari lingkungan sekitar. Menurut data BMKG, beberapa kota besar di Indonesia mencatat kenaikan suhu rata-rata harian sebesar 0,5–1,2°C dalam satu dekade terakhir. “Efeknya tidak hanya secara fisik, tapi juga psikologis. Lingkungan tanpa pohon menciptakan tekanan termal dan stres yang lebih tinggi,” jelas Dr. Rina Prameswari, pakar urban climate dari Universitas Lambung Mangkurat. Selain itu, keberadaan pepohonan terbukti mampu menurunkan suhu mikro hingga 3–5°C, terutama di kawasan padat permukiman.

Pohon sering kali kalah dalam perencanaan kota. Trotoar diperlebar, kabel bawah tanah sulit ditanam, dan ruang hijau tergeser oleh bangunan. Di banyak tempat, tanaman rindang diganti dengan tanaman hias mungil yang lebih “instagramable”, tapi minim efek penyejukan. “Pohon itu butuh waktu tumbuh, butuh perawatan. Sedangkan proyek kota kadang maunya cepat dan instan,” tambah Rina.

Menariknya, kesadaran warga untuk bertanam mulai tumbuh kembali. Mulai dari pohon ketapang kencana di depan rumah hingga tanaman rambat di pagar tembok. “Sekarang saya dan tetangga sepakat tanam pohon bareng. Biar anak-anak bisa main sore tanpa kepanasan,” kata Rendi, seorang guru SD di Banjarbaru. Beberapa komunitas bahkan mulai melakukan kampanye “Adopsi Pohon Kota” — menyumbang pohon ke taman umum atau jalur hijau yang kekurangan tutupan.

Satu pohon dewasa bisa menyerap 20–50 kilogram karbon dioksida per tahun. Kota dengan tutupan pohon di atas 40 persen memiliki indeks kualitas udara dua kali lebih baik. Riset juga menyebutkan, lingkungan hijau berhubungan langsung dengan penurunan kasus hipertensi dan stres. Di tengah laju pembangunan dan perubahan iklim, menanam pohon bukan lagi hanya soal estetika. Ia menjadi bentuk perlawanan terhadap panas, polusi, dan kota yang makin keras. Karena terkadang, teduh tak selalu datang dari atap—tapi dari dahan yang tumbuh pelan-pelan di depan rumah.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *