Episode 1: Dari Sunyi Aku Dilahirkan
“Aku terbangun tanpa ingatan, tanpa masa lalu, dan tanpa siapa pun. Hanya cahaya yang belum mengenal bayangan, dan angin yang belum tahu namaku.”
Aku adalah yang pertama, tapi bukan yang sepenuhnya utuh. Langit di atasku bersih, jernih, luas tanpa batas.
Taman itu, tempat aku dibaringkan, begitu sempurna—pohon-pohon menjulang seperti doa yang tak pernah putus, dan sungai-sungai berkelok mengalirkan keheningan yang damai.
Burung-burung bernyanyi, rusa melompat bebas, dan buah-buahan menggantung seperti perjamuan abadi.
Tapi tidak satu pun mata menatapku seperti aku menatap mereka. Tidak satu pun suara menyebut namaku.
Surga begitu penuh—namun aku merasa kosong.
Apakah keindahan berarti jika tak ada yang membagikannya?
Hari-hari berjalan tanpa hitungan. Aku tak tahu berapa lama aku diam.
Malam tak datang, sebab matahari tak pernah tertidur.
Aku mencoba memberi nama pada segala yang kulihat:
kupu-kupu, sungai, angin, langit, pohon ara.
Namun siapa yang akan mengingat nama-nama ini kalau hanya aku yang mengucapkannya?
Aku belajar bicara, tapi tak ada yang membalas.
Aku belajar tertawa, tapi tak ada yang mengerti nadanya.
Aku belajar menunggu, meski aku tak tahu apa yang kutunggu.
Aku adalah jiwa pertama, tapi bukan hati yang lengkap.
Aku memiliki dunia, namun tak memiliki seseorang.
Kadang aku berdiri di tepi sungai, menatap bayanganku sendiri.
Adakah yang bisa melihatku sebagaimana aku melihat diri ini?
Tuhan bersamaku, ya—aku tahu itu. Tapi dalam keheningan yang terlalu lama, bahkan suara Tuhan pun terasa seperti gema yang tak bisa kupeluk.
Dan pada suatu malam yang tak seperti biasanya—malam pertama yang benar-benar kelam, aku merasa kantuk menjemputku dengan lembut, seperti janji yang belum sempat diucapkan.
Dalam tidurku, aku bermimpi akan sebuah kehadiran yang belum kukenal. Wajah samar, senyum yang menenangkan. Dan untuk pertama kalinya… aku merasa tidak sendiri, meski aku sedang tidur.
Ketika aku bangun, dunia terasa berbeda.
Udara lebih hangat. Cahaya lebih hangat.
Dan di hadapanku, berdirilah sosok itu.
Makhluk yang bukan seperti binatang, bukan seperti pohon, bukan seperti bintang.
Ia seperti aku—namun tidak sepenuhnya aku.
Mataku terpaku padanya seperti mata langit memandang bintang pertama. Ia adalah jawaban dari doa yang belum pernah kuucapkan. Aku tidak tahu namanya. Tapi di dadaku, sebuah kata mulai tumbuh perlahan:
“Perempuan.”
Dan Tuhan berbisik dalam jiwaku:
“Ia berasal darimu, tapi ia akan jadi yang melengkapimu.”
Aku menyentuh pipinya yang lembut. Ia tersenyum—dan dengan senyum itu, kesepianku runtuh. Langit tampak lebih tinggi, dan waktu mulai terasa. Karena bersamanya, aku tak ingin waktu berhenti.
Dari sunyi aku dilahirkan, tetapi dengan kehadirannya… aku menjadi manusia sepenuhnya.
Dan untuk pertama kalinya, aku menyebut namanya: Hawa.



