Gerimis masih saja turun, seolah langit menahan tangis yang tak kunjung tumpah. Sungai Lumbai beriak pelan, memantulkan cahaya damar yang bergetar. Deretan lanting dagang berdiri diam, seolah menahan beban rahasia yang makin berat. Banjalaga malam ini sunyi, namun setiap sudutnya seperti mata yang mengintai.
Dan di tengah semua itu, ada satu gulungan lontar yang sanggup menggulingkan siapa saja.
—
Jumra mengintip dari balik tumpukan keranjang rotan. Bahunya basah. Gulungan lontar terselip di kainnya, terasa makin berat seperti batu.
“Kahar mendekat, wajahnya setengah gila. “Ra… demi Sungai Lumbai, serahkan saja gulungan itu. Jagau Kencana mulai memburu. Kita ini hanya anak-anak lanting. Kalau para Patih berperang, darah kita yang bakal jadi alas lantai Balai.”
Jumra menatap Kahar, mata hitamnya setajam mata ikan betok.
“Kau bicara seolah kita punya pilihan, Kar. Hidup di lanting ini cuma soal siapa lebih dulu hanyut.”
—
Ganding muncul, mengibaskan air hujan dari wajah bulatnya. Bajunya basah, menempel di tubuh.
“Sudahlah. Kita jual saja gulungan itu. Siapa pun yang berani bayar paling tinggi, ke sanalah kita ikut. Hidup ini, Ra, Kar, cuma soal perut dan nyawa.”
Kahar mendengus.
“Celaka kau, Dang. Apa kau mau Banjalaga jadi lautan darah hanya demi beberapa keping tembaga?”
—
Ganding tertawa pelan, lalu berkata:
“Aku dulu kuli garam di Jarum, Kar. Bau garam saja belum sempat hilang dari badanku. Tapi kau lihat aku sekarang? Orang lanting manggil aku calo. Orang pasar bilang aku pencuri rahasia. Hidup ini… cepat berubah.”
—
Kahar menatap Ganding, wajahnya tiba-tiba lembut.
“Kami di Lawung tak pandai main siasat, Dang. Kami cuma kuat angkat karung. Kakakku dulu mati di pasar lanting… cuma karena rebutan jalur angkut.”
—
Jumra tampak menahan emosi. Ia berkata pelan:
“Aku anak Mantirang. Di sana, sungai lebih deras. Tapi orang-orang di sini lebih buas.”
—
Julak Rumi muncul di ambang pintu lanting dagangnya. Bajunya setengah kering. Bau tajam ikan asin langsung memenuhi udara. Matanya tajam seperti tikus pelabuhan.
Julak Rumi mendengus.
“Banjalaga ingin jadi bandar. Itu racun dan berkah. Kau kira gampang, ha? Jalur dagang bukan cuma soal ikan, Dang. Jalur dagang berarti pajak. Dan pajak… berarti darah.”
—
Jumra menatap Julak Rumi.
“Jadi… ini semua bukan soal tahta semata?”
Julak Rumi menyeringai tipis.
“Tak pernah cuma soal tahta, Nak. Maraga hanya takut sungai berhenti mengalir ke Nagara Dira. Kalau Banjalaga jadi bandar, Nagara Dira tinggal bangkai di tengah rawa.”
—
Langkah berat terdengar di atas lanting. Bentakan jagau mengguncang papan lantai.
“Itu Jagau Kencana,” bisik Kahar, suaranya serak seperti tali tambang basah. “Mereka sudah mencium bau gulunganmu, Ra.”
Julak Rumi memberi isyarat keras, menunjuk ke arah kolong dermaga. Lantai kayu berderak.
—
Kolong dermaga. Gelap. Air sungai menggenang setinggi mata kaki. Bau lumpur, sampah, dan samar-samar ikan asin.
Kahar bergetar.
“Ra… buang saja gulungan itu ke sungai. Biar hanyut. Selesai.”
Jumra mendengus pelan.
“Kalau gulungan ini hanyut, darah orang-orang dalam catatan nama itu tetap akan tumpah. Bedanya, kita tak lagi punya kesempatan menghalangi.”
Ganding mengusap wajah basahnya.
“Kuasa apa, Ra? Kita ini siapa? Anak-anak lanting tak pernah punya suara. Bahkan suara hujan lebih lantang daripada suara kita.”
—
Tiba-tiba lantai dermaga bergetar. Suara pintu dibanting di atas.
Jagau Patih Kencana (suara berat):
“Siapa di situ? Kami mencium bau siasat. Keluar sebelum kami robohkan lanting ini!”
—
Julak Rumi muncul ke atas lanting. Suaranya tenang, meski matanya melirik gelisah. Bau ikan asin semakin tajam di udara.
“Tak ada siapa-siapa di sini, Tuan Jagau. Hanya aku, si tua bangka penjual ikan asin. Kecuali kalau kalian juga hendak membeli darahku.”
—
Di kolong dermaga…
Kahar berbisik, wajahnya semakin pucat.
“Ra… kita takkan selamat malam ini.”
Jumra menatap air hitam di bawah mereka. Sungai Lumbai beriak pelan, seolah menyembunyikan ribuan rahasia.
“Malam ini kita masih bernapas, Kar. Esok… entahlah. Tapi kalau Patih Kencana memegang gulungan ini, Banjalaga akan penuh kepala terpenggal. Dan Maraga akan memastikan tak ada kapal singgah ke sungai kita lagi.”
—
Suara jagau akhirnya menjauh. Julak Rumi menunduk ke kolong dermaga.
“Cepat kalian pergi. Lanting kalian sudah penuh darah, Nak. Banjalaga takkan selamanya bisa menampung rahasia kalian.”
Jumra mengangguk. Ganding memeluk karungnya lebih erat. Kahar tampak setengah pingsan.
—
Dan ketika mereka merangkak keluar dari kolong dermaga, hujan makin deras. Lampu damar berkedip, seolah takut padam. Jauh di Balai Patih, gendang mulai ditabuh. Tanda siasat berikutnya sedang disiapkan.
“Malam ini belum menjemput maut. Tapi Banjalaga sedang menahan napas…” bisik Jumra dalam hatinya.
—
Bersambung



