Kebisingan Digital Kian Menyesakkan, “Konten Hening” Jadi Pelarian Baru Netizen

Diposting pada

DUNIA digital yang semula dirancang sebagai ruang berbagi dan hiburan kini mulai dipandang sebagai sumber kebisingan yang memekakkan. Di tengah banjir notifikasi, scroll tanpa akhir, dan konten bersuara keras, semakin banyak pengguna internet—terutama Gen Z—mulai mencari ketenangan lewat konten yang nyaris tak bersuara: silent vlog.

Fenomena ini muncul di berbagai platform, terutama TikTok dan YouTube Shorts, dengan isi video yang menampilkan aktivitas sederhana seperti merapikan rumah, memasak sarapan, hingga berjalan kaki di pagi hari—tanpa suara musik atau narasi. Hanya ada suara ambient seperti gemericik air, gesekan sendok, atau langkah kaki di atas tanah.

Menurut riset tren media sosial 2025 yang dirilis oleh Sociowave Asia, pencarian untuk konten dengan kata kunci “calming” dan “silent vlog” meningkat hingga 230% dalam enam bulan terakhir. Para pengguna menyebut konten semacam ini sebagai “tempat aman dari kebisingan internet.”

Di Banjarmasin, Fenya Rahmah (23), seorang content creator yang juga mulai membuat silent vlog, mengaku awalnya mencoba format ini karena lelah dengan tuntutan performatif konten viral. “Aku capek dengan harus selalu ngomong, harus selalu rame. Tapi ternyata, ketika aku bikin konten diam dan tenang, banyak banget yang justru bilang mereka ngerasa damai,” ujarnya.

Kebisingan digital sendiri merupakan istilah yang merujuk pada ledakan informasi dan suara di dunia maya—baik berupa notifikasi, musik latar yang dipaksakan, hingga konten yang menabrak-nabrak algoritma demi atensi. Studi dari Digital Mind Lab Singapura menyebutkan bahwa 7 dari 10 orang pengguna internet aktif mengalami yang disebut “digital fatigue”, kelelahan akibat paparan konten berlebihan.

Tren ini juga melahirkan gaya hidup digital baru: slow content. Para pembuatnya lebih memilih memperlambat ritme, memperpanjang durasi, dan tidak terobsesi dengan algoritma. “Buat aku, ini bentuk perlawanan terhadap kecepatan yang memaksa,” tambah Fenya.

Selain vlog hening, konten ASMR dan digital ambient space—yakni ruang virtual yang hanya berisi visual dan suara alam—juga makin digemari. Di Banjarmasin dan Banjarbaru, muncul komunitas kecil yang rutin menggelar sesi nonton silent video bersama di kafe atau ruang komunitas, semacam nonton bareng tapi untuk diam bersama.

Fenomena ini memberi sinyal kuat bahwa masyarakat mulai lelah dengan hiruk pikuk dunia maya. Mereka tidak meninggalkan internet, tapi mencari cara untuk berdamai dengannya. Di tengah sorak-sorai digital, diam ternyata bisa jadi bentuk ekspresi paling jujur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *