Thrift Culture dan Keresahan Gaya Hidup Murah tapi Estetik

Diposting pada

Berburu jaket vintage di lapak kaki lima, mencari celana wide leg bermerek yang setengah tersembunyi di tumpukan baju bekas, lalu menyulap semuanya menjadi gaya yang tampak effortless tapi tetap estetik—begitulah kira-kira akhir pekan anak muda hari ini. Budaya thrifting, yang dulu dianggap pilihan terpaksa karena keterbatasan uang, kini justru menjelma menjadi simbol gaya hidup modern yang kreatif, berkarakter, dan hemat.

Di kota-kota seperti Banjarmasin, lapak-lapak baju second kini tak pernah sepi pengunjung. Ada yang datang karena ingin tampil beda, ada juga yang benar-benar butuh pakaian murah berkualitas. Tapi belakangan, alasan ber-thrift makin meluas: ingin tampil estetik untuk konten, ingin menciptakan persona fashion yang artsy, atau sekadar mengikuti tren yang sedang viral.

Media sosial punya andil besar dalam membentuk citra baru thrifting. Dari TikTok hingga Instagram, konten haul thrift menjadi tontonan populer. Anak muda memamerkan hasil buruan mereka: sweater Brandy Melville, jaket kulit oversized, sepatu retro, semua dengan harga miring. Bahkan ada kebanggaan tersendiri saat bisa tampil fashionable dengan bujet terbatas. Semacam piala diam-diam dalam dunia ekonomi kreatif.

Namun di balik gaya yang terkesan bebas dan ‘anti arus utama’, budaya thrift juga menyimpan tekanan terselubung. Ketika pakaian bekas dijadikan standar baru keestetikan, ada dorongan tak kasat mata untuk tetap tampil sesuai algoritma—unik tapi tidak terlalu nyeleneh, murah tapi tetap terlihat mahal. Thrifting tak lagi hanya soal hemat, tapi juga soal pencitraan.

Tidak sedikit yang merasa harus terus membeli barang bekas demi membuat konten yang konsisten. Padahal, esensi awal dari thrifting adalah keberlanjutan—mengurangi limbah fesyen cepat dan menyelamatkan pakaian dari tempat sampah. Tapi jika dilakukan secara impulsif demi gaya atau demi like, maka thrifting bisa jatuh ke lubang yang sama dengan fast fashion: konsumsi berlebihan, hanya dalam wujud yang berbeda.

Budaya thrift hari ini hidup dalam persimpangan: antara idealisme keberlanjutan dan realita tren media sosial. Di satu sisi, ia menawarkan kebebasan berekspresi tanpa harus mengikuti arus label mahal. Di sisi lain, ia tetap menuntut estetika yang telah dikurasi oleh standar visual digital. Bahkan kesederhanaan pun kini harus terlihat menarik di kamera.

Bagi banyak anak muda, thrift adalah perlawanan yang diam-diam: melawan konsumerisme, melawan harga selangit, melawan kemiripan. Tapi akan jadi ironi jika perlawanan itu sendiri berubah menjadi gaya hidup baru yang memaksa.

Mungkin, yang paling penting bukan seberapa estetik hasil thrifting kita, tapi bagaimana kita bisa tetap jujur dalam memilih: apakah kita sedang mencari pakaian… atau sedang mencari pengakuan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *