Kalau dulu kafe identik dengan tempat nongkrong, sekarang fungsinya makin melebar. Di banyak kota, terutama yang punya kafe 24 jam, suasana malam justru dipenuhi anak muda yang sibuk mengetik di laptop, membaca catatan kuliah, atau bahkan rapat online mendadak.
Fenomena ini muncul karena kebutuhan ruang belajar yang nyaman, bebas ribet, dan bisa diakses kapan saja. Perpustakaan memang ada, tapi jelas kalah jam operasional. Sementara di kafe, selain dapat wifi gratis, kopi panas, dan colokan listrik, atmosfernya juga bikin betah.
Menariknya, suasana kafe yang awalnya bising justru dianggap “teman fokus”. Banyak mahasiswa merasa lebih gampang menyelesaikan tugas ketika ada suara obrolan samar, dentingan gelas, atau musik akustik pelan di background. Bahkan ada yang sengaja pindah dari kosan ke kafe tengah malam demi mencari mood produktif.
Bagi pemilik kafe, tren ini jadi berkah. Mereka tak hanya kedatangan pelanggan yang sekadar nongkrong, tapi juga pelanggan setia yang bisa betah berjam-jam sambil memesan minuman atau camilan ringan. Beberapa kafe bahkan mulai menyiapkan area khusus “coworking dadakan” dengan meja besar dan pencahayaan ekstra.
Fenomena kafe 24 jam ini seolah membuktikan kalau belajar dan bekerja tidak lagi terbatas di ruang formal. Selama ada koneksi internet, secangkir kopi, dan suasana yang mendukung, anak muda bisa produktif di mana saja—bahkan di tengah malam sekalipun.



