Kemenangan Pangeran Samudera atas pamannya, Pangeran Tumenggung, bukan hanya penanda berakhirnya perang saudara di Kalimantan Selatan, tetapi juga menjadi titik awal berdirinya Kota Banjarmasin—sebuah peristiwa besar yang dikaitkan dengan satu hal unik dalam budaya Jawa: hari baik.
Penetapan Hari Jadi Kota Banjarmasin tak lepas dari riset panjang yang dilakukan para sejarawan, salah satunya Idwar Saleh, yang menulis buku berjudul Banjarmasih (diterbitkan oleh Museum Lambung Mangkurat, 1981). Dari karyanya inilah, pemkot Banjarmasin akhirnya menetapkan 24 September 1526 sebagai hari berdirinya kota ini.
Dari Debat Sejarawan ke Penanggalan Jawa
Penelusuran penanda waktu Banjarmasin telah banyak dilakukan sebelumnya oleh sejarawan Barat. Eisenberger misalnya, mengajukan tahun 1595. Namun pendapat ini ditolak. Referensi lain seperti Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië dan Colenbrander menyebut tahun 1520. Sementara filolog JJ Ras hanya menyebut Banjarmasin sebagai keraton ketiga yang didirikan dengan bantuan Demak, tanpa menyebut tanggal pasti.
Idwar Saleh mengambil pendekatan berbeda. Ia mengacu pada pendapat Schrieke yang menyatakan bahwa abad ke-16 adalah masa pesatnya penyebaran Islam ke seluruh penjuru Asia Tenggara—salah satunya karena dampak besar dari Perang Salib yang memperuncing konflik Islam dan Kristen, termasuk dalam jaringan dagang Asia.
“Apabila 1521 Demak menyerang Majapahit, 1524 menyerang dan menaklukkan Banten Girang, 1527 menaklukkan Sunda Kelapa, maka pengiriman armada dan bantuan pasukan ke Banjarmasih terjadi pada tahun 1526,” tulis Idwar.
Pemilihan Hari Baik dan Persiapan Spiritual
Dalam budaya keraton Jawa, setiap peristiwa besar selalu mempertimbangkan primbon atau perhitungan hari baik dan buruk. Apalagi jika menyangkut perkara sebesar pengislaman kerajaan dan rakyatnya.
Idwar Saleh mencatat, berdasarkan perhitungan tarikh Jawa dan Hijriah, tahun 1526 adalah tahun Jimali atau 933 Hijriyah. Islamisasi besar-besaran tidak bisa dilakukan sembarangan.
“Karena itu, pengislaman besar-besaran rakyat dan raja Banjarmasih kalau dihitung menurut hari baiknya, jatuh pada Rabu Wage, 4 Syawal Jimawal 1444 Ehe (4 Syawal 932 Hijriah), atau 23 Juli 1526, antara pukul 08.30–13.00. Tiga hari setelah Idulfitri,” tulis Idwar.
Namun serangan belum bisa dilakukan saat itu. Perlu menunggu puncak kemarau pada bulan Agustus, agar pasang sungai mengalir kuat ke hilir dan memudahkan armada besar menyusuri Sungai Barito ke wilayah pertahanan Negara Daha di Parit Basar.
Pertempuran Penentu dan Pengakuan Resmi
Tanggal penting lainnya adalah 6 September 1526 (20 Zulkaidah 932 H), ketika persiapan akhir dilakukan. Dua pekan kemudian, pada 19 September 1526 (3 Zulhijjah 932 H), pasukan Pangeran Samudera meraih kemenangan besar. Kerugian di pihak Negara Daha begitu besar hingga Sultan Demak, Arya Trenggana, mengusulkan pertempuran diselesaikan secara langsung antara dua pemimpin utama.
Dua pihak pun sepakat. Pada Sabtu Pon, 24 September 1526, yang diyakini sebagai hari baik, keduanya bertempur satu lawan satu di atas perahu talangkasan.
Namun ketika Pangeran Samudera berdiri di atas perahu dan menyatakan tidak mau melawan pamannya sendiri, Pangeran Tumenggung justru terenyuh. Ia melemparkan senjatanya, memeluk keponakannya, dan menyerahkan pusaka-pusaka kerajaan kepadanya.
Sejak saat itu, Pangeran Samudera diangkat sebagai raja Banjarmasin—dan tanggal 24 September 1526, pukul 10.00 pagi (8 Zulhijjah 932 H) ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Banjarmasin.



