Pelaihari – Ketua Dewan Kesenian Tanah Laut (DK Tala) Hadani menegaskan bahwa Tuntung Pandang Art Festival merupakan kegiatan murni inisiasi bidang kebudayaan Disdikbud Tanah Laut dan DK Tala, dan bukan didominasi seniman dari luar daerah sebagaimana disebutkan dalam pemberitaan sebelumnya.
Festival yang akan digelar pada 7–8 November 2025 di Pantai Batakan, Kecamatan Panyipatan, ini menghadirkan beragam penampilan seni serta workshop kesenian yang terbuka untuk masyarakat, khususnya bagi pelajar di Kecamatan Panyipatan.
Hadani menjelaskan, sejak awal konsep festival ini memang dirancang sebagai ruang kolaborasi lintas daerah untuk memperkenalkan potensi seni dan budaya Tanah Laut kepada khalayak yang lebih luas.
“Memang sejak awal konsepnya seperti itu. Kami ingin memperkenalkan Tanah Laut kepada para seniman dari luar daerah, sekaligus menunjukkan bahwa kita juga mampu menyelenggarakan festival dengan skala nasional,” ujarnya pada Kamis (6/10).
Menurutnya, kehadiran seniman luar tidak berarti mengesampingkan pelaku seni lokal. Justru, ruang bagi seniman Tanah Laut telah banyak difasilitasi oleh Bidang Kebudayaan dan DK Tala melalui berbagai kegiatan.
“Selama ini banyak kegiatan yang melibatkan seniman Tanah Laut, seperti program Seniman Masuk Sekolah, Gebyar Budaya 17 Agustus, dan penampilan tari massal di Porprov yang seluruhnya diisi penari lokal. Bahkan setiap bulan kami rutin mengadakan kegiatan MIMBAR Seni bagi seniman-seniman Tanah Laut,” jelasnya.
Hadani menambahkan, tiga bentuk seni yang ditampilkan dalam Tuntung Pandang Art Festival kali ini—teater monolog, tari kontemporer, dan musik eksperimental—dipilih karena masih tergolong baru dan belum banyak dikenal masyarakat Tanah Laut.
“Melalui festival ini, kami ingin memperkenalkan bentuk-bentuk seni yang berbeda agar wawasan masyarakat dan seniman lokal semakin luas,” katanya.
Selain pertunjukan, festival ini juga menghadirkan workshop seni bagi pelajar di Kecamatan Panyipatan sebagai kegiatan edukatif untuk memperluas apresiasi seni di kalangan muda.
“Peserta utama workshop adalah pelajar dari Kecamatan Panyipatan. Tapi kalau ada pelajar dari luar kecamatan yang ingin ikut bergabung, silakan. Kegiatannya gratis dan terbuka untuk semua,” tutur Hadani.
Ia menambahkan, keterlibatan seniman luar daerah dalam festival bukan hal yang baru dalam dunia seni. “Di Tapin Art Festival atau Meranti Putih Performing Art Festival di Kotabaru, seniman dari luar daerah juga ikut tampil. Itu hal yang wajar dalam dunia seni yang terbuka dan saling belajar,” ungkapnya.
Hadani kemudian mengajak seluruh pelaku seni di Tanah Laut untuk menjaga semangat kebersamaan. “Mari kita bersama-sama membangun pola berkesenian di Tanah Laut tanpa harus saling menyudutkan. Intinya, kami tidak meninggalkan seniman lokal. Justru, kita semua punya wadah masing-masing agar perkembangan seni di Tanah Laut bisa berjalan seimbang,” tutupnya.
Tuntung Pandang Art Festival diharapkan menjadi ruang bertemu, berbagi, dan belajar antarseniman dari berbagai daerah—serta menjadi panggung yang mempertemukan semangat muda Tanah Laut dengan denyut seni yang lebih luas.



