Workshop Tuntung Pandang Art Festival ajak generasi muda mengekspresikan kepedulian pada alam lewat seni.
Udara asin Pantai Batakan berpadu dengan riuh tawa pelajar yang sedang berlatih menari, bermain musik, dan berteater. Dalam workshop seni yang menjadi bagian dari Tuntung Pandang Art Festival, para peserta diajak untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi seniman dalam sehari — menelusuri proses kreatif dari menggali ide hingga tampil di hadapan penonton.
Kegiatan yang digelar pada 7–8 November 2025 ini melibatkan tiga seniman dari Kalimantan Selatan: Surya Tajudin di bidang musik, Gita Kinanti untuk tari, dan Bayu Bastari yang membimbing teater. Mereka tidak hanya mengajarkan teknik, tetapi juga membuka ruang bagi pelajar untuk menafsirkan pengalaman mereka sendiri dalam bentuk karya sederhana namun jujur.
Sebagian besar peserta berasal dari sekolah-sekolah di Kecamatan Panyipatan, sementara beberapa lainnya datang dari luar daerah, bergabung dengan semangat ingin belajar dan mencoba hal baru.
Tema yang mereka garap sederhana: menjaga lingkungan. Dalam waktu singkat, para pelajar menciptakan pertunjukan yang mengajak penonton merenungi keindahan pantai dan pentingnya melestarikan ekosistem di sekitarnya. Di bawah langit sore Batakan, mereka menari, bermain musik, dan berakting dengan pesan yang bening: bahwa bumi dan laut memerlukan tangan-tangan yang peduli.
Ketua Dewan Kesenian Tanah Laut, Hadani, menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran seni di kalangan muda. “Kami ingin para pelajar merasakan sendiri bagaimana proses kreatif itu bekerja — dari menemukan ide, bekerja sama, hingga mengekspresikan sesuatu yang mereka yakini,” ujarnya, Kamis (6/10).
Workshop tersebut menjadi jembatan kecil antara dunia pendidikan dan dunia kesenian. Tidak ada kompetisi, tidak pula penilaian. Yang ada hanyalah ruang belajar yang hangat, di mana gagasan, keberanian, dan keindahan bisa tumbuh bersama.
Sore itu, ketika pertunjukan berakhir, tepuk tangan penonton menyatu dengan gemuruh ombak. Di wajah para pelajar terpancar rasa bangga — bukan karena tampil di panggung besar, tetapi karena mereka telah menulis cerita kecil tentang cinta pada alam dan kampung halaman mereka.[]



