Seniman Banua Menanti Gedung Kesenian, Yamin Targetkan Dibangun 2027

Diposting pada

Banjarmasin – Wali Kota Banjarmasin H. M. Yamin HR menegaskan komitmennya untuk menghadirkan gedung kesenian dan kebudayaan di Kota Banjarmasin. Fasilitas yang telah lama dinantikan para seniman itu ditargetkan mulai direalisasikan pada 2027.

Hal tersebut disampaikan Yamin saat membuka kegiatan Musyawarah Masyarakat Seni dan Ngaji Puisi #6 yang digelar Dewan Kesenian Banjarmasin di Rumah Anno 1925, Jumat (13/3) malam.

Dalam kegiatan tersebut, Yamin didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin Ryan Utama serta Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kota Banjarmasin Ibnu Sabil.

Kegiatan itu turut dihadiri para pegiat seni dan sastra dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan, tidak hanya dari Banjarmasin, tetapi juga dari Hulu Sungai Tengah, Barito Kuala, hingga Banjarbaru.

Yamin mengatakan keberadaan gedung kesenian sangat penting sebagai ruang ekspresi dan tempat berkarya bagi para seniman daerah.
Menurutnya, pembangunan fasilitas tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah kota dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan Banua di tengah perkembangan zaman.

“Puisi, syair, pantun, musik panting dan berbagai kesenian Banua harus terus kita jaga dan kenalkan, termasuk melalui media sosial agar lebih dikenal generasi muda,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Banjarmasin Hajriansyah menyampaikan bahwa kegiatan Musyawarah Masyarakat Seni dan Ngaji Puisi merupakan agenda rutin yang kini memasuki pelaksanaan keenam.

Dalam kesempatan yang sama, tokoh sastra Kalimantan Selatan Micky Hidayat juga memperkenalkan buku antologi puisi berjudul Pesiar Tanpa Belayar. Buku tersebut memuat karya 14 penyair muda potensial dari Kalimantan Selatan.

Micky berharap buku tersebut dapat diperbanyak dan didistribusikan ke sekolah-sekolah di Kota Banjarmasin agar karya sastra lokal lebih dikenal oleh generasi muda.

Menanggapi hal itu, Yamin menyatakan pemerintah kota siap mendukung upaya pengembangan sastra daerah, termasuk membantu memperbanyak buku tersebut untuk dibagikan ke sekolah-sekolah.

Menurutnya, langkah tersebut penting agar para siswa dapat mengenal karya sastra daerah sejak dini sekaligus memperkuat identitas budaya Banua.

“Kita jangan sampai kehilangan jati diri budaya karena terlalu banyak meniru budaya luar. Kita harus menjaga marwah Banjarmasin dengan tetap melestarikan kesenian dan kebudayaan Banua,” tutupnya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *