Matahari sudah mulai turun di balik lereng-lereng rimba pegunungan Meratus. Masyarakatnya mulai melepaskan penat di beranda dan halaman-halaman rumah. Namun ada yang berbeda pada salah satu rumah di Desa Balawayan, Kecamatan Piani, Tapin tersebut Seorang wanita tengah sibuk menganyam bakul. Dari mulutnya, sayup terdengar senandung yang mendayu.
Dialah Indung Siani, salah satu yang masih bisa menuturkan sastra lisan andi–andi. Usianya sudah 50 tahun lebih. Setiap menjeda syairnya kala itu, ia kadang terbatuk-batuk.
Indung Siani adalah panggilan akrab warga sekitar untuknya. Nama aslinya ialah Aham. Siani tidak lain adalah anak tertua yang ia lahirkan. Indung Siani, berarti ibu dari Siani.
Baandi-andi (mendendangkan andi–andi) rupanya memang kegemarannya. Setiap kali diminta baandi-andi, Indung Siani hampir tak pernah menolak. Saat itu, syair andi–andi yang didendangkannya berjudul “Urang Gunung Kaling Handak Mamuai”. Ia hafal puluhan judul kisah.
Andi–andi merupakan sastra lisan tradisional masyarakat meratus yang berisi kisah-kisah teladan. Penyajiannya dengan mendendangkan narasi dan dialog tokoh-tokoh dalam cerita yang disampaikan.
Biasanya, andi–andi menjadi hiburan di waktu senggang sekaligus pelepas penat sehabis bekerja di ladang. Begitu juga untuk menidurkan anak-anak.
Menurut Indung Siani, perlu kepekaan yang kuat untuk bisa mengalunkan irama dan kisah baandi-andi. Maklum, rata-rata kisah andi–andi relatif panjang. “Satu malam penuh,” katanya.
Indung Siani sendiri mewarisi tradisi baandi-andi dari ibunya. Tak ada pelajaran atau latihan khusus yang ia lakukan. Terbiasa mendengar, ia pun bisa melantunkan iramanya.
Ia bercerita, setiap kali mendiang ibunya mulai berandi-andi, dirinya selalu tulen mendengarkan. Bahkan, Aham kecil enggan tidur jika cerita belum selesai.
Indung Siani mengaku sudah mulai bisa melantunkan irama andi–andi sejak usia remaja. Sekali mendengar cerita andi–andi yang baru saat itu, kepalanya langsung bisa menghafal.
Sayang, generasi terkini belum ada yang bisa melantunkan sastra lisan khas Meratus tersebut. Besar keinginan Indung Siani agar andi–andi khas Meratus bisa dikenal masyarakat yang lebih luas.
“Kalau ada yang mengundang, saya mau,” katanya.[]



