Basanandung Kesah, Seni Tutur untuk Mengembangkan Keterampilan Sastra-seni Lisan

Diposting pada

SENI hidup dalam masyarakat. Seni merefleksikan berbagai hal di tengah masyarakat. Perkembangan masyarakat akan memengaruhi persepsi terhadap karya seni. Seni yang dianggap sudah tidak sesuai dengan perkembangan kekinian akan cenderung ditinggalkan.

Kalimantan Selatan memiliki kesenian tutur Andi-andi yang saat ini keberadaannya sudah tergolong langka. Dua dosen FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, yakni: Dr. Dwi Wahyu Candra Dewi, M.Pd dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia bersama Sulisno, S.Sn.,M.A dari Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan tengah melakukan penelitian tentang pengetahuan siswa SMP Negeri 1 Marabahan terhadap seni tutur yang ada di Kalimantan Selatan, khususnya seni Andi-andi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jejak seni tutur Andi-andi di Kabupaten Barito Kuala sekaligus melakukan rekonstruksi seni tutur di kalangan pelajar SMP di Barito Kuala.

Tim peneliti yang berasal dari dua program studi berbeda tetapi sama-sama memiliki bidang kajian dalam mata kuliah berkaitan dengan budaya Kalimantan Selatan, yaitu apresiasi sastra/seni lisan/tutur juga mengusung Basenandung Kesah untuk dikaji dari sisi isi/makna dan kelisanannya sebagai bahan ajar menggunakan inovasi pendidikan. Kegiatan ini menjadi bagian dari program Dosen Wajib Meneliti (PDWM) Universitas Lambung Mangkurat dengan judul Penerapan Model AMM dalam Belajar Basenandung Kisah untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Pada Siswa SMP di Bantaran Sungai Kabupaten Barito Kuala.

Secara acak kedua dosen tersebut masuk ke satu kelas, lalu memberikan sejumlah pertanyaan ke siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada satu pun siswa di kelas tersebut yang mengetahui seni Andi-andi. 

Seni Andi-andi sudah tergolong seni langka yang tidak lagi dikenal siswa.  Saat ini keberadaan seni Andi-andi tinggal tersisa di sekitar Pegunungan Meratus dengan jumlah penutur yang terbatas dan jarang ditampilkan. Di daerah Sungai Getas Kabupaten Barito Kuala ada satu orang penutur Andi-andi bernama Ibu Masdiah atau sering disebut “Acil Ratu”, namun para murid mengatakan tidak tahu dan belum pernah menyaksikan Andi-andi yang dimainkan oleh Ibu Masdiah ini. 

Menurut Ki Sulisno, Andi-andi sudah menjadi seni masa lalu milik orang tua. Saat tim peneliti menunjukkan video Andi-andi ke siswa lalu meminta tanggapan para siswa, hampir semua murid yang merupakan generasi muda saat ini menyatakan kurang tertarik dengan seni Andi-andi. 

Kearifan lokal Banjar masih banyak yang belum tergali dan terpublikasikan dalam bentuk buku atau bahan bacaan untuk diwariskan kepada generasi selanjutnya. Ide, gagasan, hasil konvensi budaya yang bernilai kearifan lokal sebenarnya mencerminkan nilai dan norma yang dianut. Akan tetapi, kearifan lokal menjadi kurang memiliki manfaat jika dibiarkan tercecer. Selama ini masyarakat Banjar hanya mengandalkan adanya tokoh senior atau yang dituakan dalam pelestarian seni tutur.  Jika para senior berpulang maka akan hilang juga kesenian yang seharusnya dapat dilestarikan dan dipertahankan tersebut. Jika hal itu terjadi secara terus menerus dan berkelanjutan maka seni dan budaya Banjar akan habis. 

“Oleh karena itu, melalui penelitian ini diharapkan dapat turut membantu mengumpulkan bagian yang tercecer tersebut agar dapat dicatat, didokumentasikan, dan dibukukan sebagai warisan kepada generasi penerus, sekaligus menawarkan pengembangan maupun penciptaan bentuk baru yang berpijak dari kearifan lokal setempat,” kata Ki Sulisno.

Tim Peneliti lalu memperkenalkan konsep kesenian Basanandung Kesah. Basenandung kesah berarti menyenandungkan atau melagukan kisah yang bernilai sastra-seni. Basenandung kesah ini dikembangkan dari seni tutur Andi Andi. Kalau dari seni tutur Andi Andi menggunakan cerita yang sudah ada, yaitu cerita Panji, maka dalam Basanandung kesah para murid membuat cerita sendiri berdasar pengalaman di lingkungannya sehari-hari. Isi cerita yang disenandungkan dalam Basenandung Kesah disesuaikan dengan peristiwa yang dialami atau yang dijumpai di sekitar. Basenandung Kesah diharapkan dapat menjadi wadah para siswa untuk mengekspresikan perasaan dan jiwa berdasarkan keadaan yang ada. Hal-hal yang disenandungkan memuat nilai-nilai kehidupan sesuai dengan konteks lingkungan alam, sosial dan budaya masyarakat setempat. 

Selain kebebasan dalam membuat cerita, siswa juga diberi kebebasan membuat lagu. Setiap siswa dapat membuat lagu dan gaya yang berbeda-beda. 

“Supaya basanandung kesah dapat mengekspresikan cita rasa budaya lokal Banjar, para siswa terlebih dahulu diperdengarkan berbagai musik maupun lagu yang menampilkan cengkok-cengkok nada khas Banjar untuk mendapatkan ‘inguh keBanjaran’,” pungkas Ki Sulisno.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *