Pilkada Kalsel 2020
Ilustrasi: Bagir Zubair

Kalah dan Menang

Diposting pada

SEMUA calon kepala daerah yang akan berlaga di Pilkada tahun 2020 ini, sebagaimana bisanya, pasti sudah berikrar: Siap menang, siap kalah!

Penulis: Almin Hatta

Sepertinya, ikrar tersebut sederhana saja. Sebab, dalam setiap pertarungan, pertandingan, perlombaan, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Setiap orang yang terjun ke medan laga tentu sudah menyadari hasil yang akan diraihnya: Kalau tak beruntung meraih kemenangan, tentulah terjerembab sebagai pecundang.

Tapi, sebenarnya, soal kalah dan menang ini tidaklah sederhana. Kemenangan bahkan bisa membuat orang kehilangan keseimbangan. Tak sedikit orang yang mulanya selalu tampil sederhana, tiba-tiba berubah menjadi jumawa ketika duduk di singgasana.

Kemenangan juga bisa membuat seseorang mabuk kepayang. Apalagi jika kemenangan yang diraih itu berupa jabatan tinggi di pemerintahan, bisa dengan gampang membuat seseorang lupa mana yang halal mana yang haram: milik banyak orang bisa dengan gampang diklaim sebagai milik diri seorang.

Jadi, sesungguhnya, kemenangan dalam meraih jabatan bisa pula bermakna kekalahan. Sebab, dengan memegang jabatan, seseorang bisa kehilangan kesederhanaan. Lantaran pengaruh jabatan, seseorang bisa dengan gampang melakukan penyelewengan. Bahkan, jabatan bisa melunturkan keimanan orang yang bersangkutan.

Begitu pula dengan kekalahan, bukanlah perkara gampang. Tak banyak orang yang bisa menerima kekalahan dengan dada lapang. Apalagi jika kekalahan itu terjadi dalam perebutan kekuasan. Sebab, setiap perebutan kekuasan selalu menguras banyak uang, dan bahkan tak sedikit orang yang kemudian terlilit utang.

Karena itulah si kalah kerap menuding kemenangan lawan diraih lewat cara curang (meski terkadang memang demikian). Maka, yang kemudian muncul adalah dendam. Kalau sudah demikian, kepemimpinan si pemenang kerap direcoki dengan tuduhan yang bukan-bukan. Akhirnya, roda pemerintahan tak bisa berjalan lempang, dan rakyat jualah yang paling dirugikan.

Makanya, ikrar siap kalah dan siap memang itu cuma gampang diucapkan, tapi sebenarnya sangat sulit diterapkan. Soalnya adalah, si pemenang sering lupa bahwa jabatan yang diraihnya tak lebih dari sebuah amanah. Yakni amanah menjadi pemimpin yang adil-bijaksana, untuk kemudian meraih kesejahteraan buat semua. Begitu pula si pecundang, sering tak menyadari bahwa kekalahan itu justru merupakan berkah. Yakni berkah untuk tak memikul beban amanah yang tak tertanggungkan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *