Almin Hatta

Dalam situasi seperti ini, yang paling enak tentulah liburan ke vila di pegunungan, berendam di kolam renang, atau mendekam saja seharian di kamar berpendingin buatan.
Tapi, semua itu hanya bisa dinikmati orang-orang kaya. Sedangkan orang tak berpunya terpaksa harus menerima apa adanya. Tukang becak harus terus mengayuh becaknya. Tukang ojek harus setia pengantar penumpangnya. Tukang bangunan harus rela keringatnya mengucur lebih deras dari biasanya. Tukang pos tak mungkin melalaikan tugasnya pengantar surat ke alamatnya. Petani harus tetap turun ke sawah ladangnya. Nelayan harus terus melaut menangkap ikan seperti sediakala. Bahkan pengemis tetap menadahkan tangannya, meski sinar mentari menusuk tepat di ubun-ubunya. Meski virus Corana setiap saat mengancam jiwa!
Begitulah, nafkah harus terus diperjuangkan agar kehidupan terus berkelanjutan. Agar perut anak-anak tersayang tetap kenyang, sebab gara-gara perut lapar orang bisa bersimpang tujuan. Perut yang lapar bisa menyeret seseorang ke jalan kemaksiatan. Tapi, dengan perut kenyang orang justru bisa melupakan penguasa alam. Kekayaan berlimpah bisa membuat orang lupa bahwa sebenarnya ada Yang Maha Kaya.
Musim kemarau sekarang, aku tiba-tiba teringat cerita Murtadha Muthahhari tentang Abu Amr Syaibani dan Imam Ja’far Shadiq. Dikisahkan, pada suatu musim kemarau yang teramat panjang, Syaibani melakukan perjalanan ke sebuah desa, mengunjungi sahabatnya Imam Ja’far. Dari kejauhan Syaibani sudah melihat Ja’far sedang mencangkul di kebun. Ketika Syaibani tiba, keringat terlihat mengucur deras dari tubuh Ja’far, sementara cangkul masih tergenggam erat di tanganya yang menghitam.
Syaibani mengira, Ja’far yang cukup kaya ini rupanya tak mendapatkan pekerja untuk menggarap tanah perkebunannya. Maka ia pun berkata, “Berikan cangkulmu kepadaku, biar aku saja yang mencangkul kebunmu itu.”
Tapi, apa jawaban Ja’far? “Sesungguhnya aku menyukai orang yang didera terik matahari dalam mencari rezeki,” ujarnya.
Murtadha Muthahhari juga punya bercerita tentang seorang zuhud bernama Muhammad bin Munkadir yang pada suatu hari pergi ke kota. Di kejauhan jalan yang terpanggang panas kemarau panjang, ia melihat seorang bertubuh teramat gemuk sedang dipapah dua orang budak berkulit hitam. Munkadir pun menggumam, saudagar mana pula yang dalam keadaan panas tak terkira ini masih juga disibukkan oleh urusan dunia? Ia mengira, orang kaya itu sedang melakukan perjalanan dalam rangka urusan bisnisnya.
Ketika dekat, dugaannya memang tepat. Orang gemuk itu tak lain dari Imam al-Baqir, seorang kaya yang sekaligus pemimpin bangsa. Maka Munkadir pun menegurnya dengan perkataan sarat makna. “Semoga Allah memperbaiki dirimu sebagai seorang syaikh. Pada jam sesiang ini dan dalam cuaca seterik ini, Tuan masih keluar rumah untuk urusan dunia. Bagaimana jadinya jika ajal menemui Tuan dalam situasi seperti ini?” katanya.
Tapi, apa kemudian jawaban al-Baqir? “Demi Allah, aku bangga jika mati dalam keadaan mencari nafkah seperti ini. Yang aku takutkan ialah kematian yang datang di saat aku sedang berbuat kemaksiatan,” ujarnya.
Maka, yang patut kita lakukan bukanlah menaruh iba berlebihan kepada mereka yang mengais rezeki dengan membanting tulang. Melainkan memperlihatkan rasa hormat akan keteguhan mereka dalam menjalani perihnya kehidupan.***



