Kepala Daerah
Ilustrasi (maknanews.com)

Kepala Daerah

Diposting pada

Oleh Almin Hatta

 

Ujian tertinggi bagi seorang pemimpin adalah jika ia bisa mengurus keluarganya – Eros Djarot

JUJUR saja, suatu ketika aku pernah pula tergoda, atau barangkali lebih tepat disebut berangan-angan, ingin menjadi kepala daerah. Tak kelewat tinggi sebenarnya, cukup menjadi bupati saja.

Ceritanya begini. Beberapa tahun lalu aku kedatangan tamu yang benar-benar tak terduga. Yakni teman sekolah sejak SD hingga SLTP. Kedatangan teman lama yang sudah sekian tahun tak pernah jumpa itu membawa kabar gembira, bahwa ia sudah menjadi kepala daerah di tanah kelahiran kami nun jauh di pedalaman Kalimantan sana.

Itulah awalnya. Malam ketika berangkat ke peraduan, pikiranku menerawang tentang teman yang baru saja kejatuhan rembulan. Aku lalu mengingat-ingat, apa gerangan prestasinya selama ini hingga sekarang dipercaya menjadi bupati.

Akhirnya aku berkesimpulan, teman itu boleh dibilang tak punya kelebihan apa-apa. Prestasi sekolahnya biasa-biasa saja. Kegiatan organisasi pun tak ada. Kekayaan juga tak seberapa. Apologi pun muncul. Rasanya, aku jauh lebih pantas menjadi bupati ketimbang dia, asalkan harta jangan dijadikan syarat utama. Nah, itulah awalnya, kenapa aku sempat-sempatnya tergoda dan bahkan berangan-angan menjadi bupati pula. “Dari segi persayaratan, aku jelas lebih memenuhi ketimbang dia,” batinku, lalu tertidur dan kemudian mendengkur, sehingga seluruh angan itu pun luntur.

Beberapa waktu kemudian muncul pertanyaan, kenapa teman itu bisa meraih sukses demikian? Sulit menjawabnya. Agar gampang, aku pun mengambil jalan pintas: teman itu sedang dalam ujian yang lebih besar. Sebab, jabatan memang lebih merupakan ujian untuk menunaikan amanah yang harus dipertanggungjawabkan oleh orang yang bersangkutan.

Hasilnya, kukira teman tadi telah gagal sebagai kepala pemerintahan. Setidaknya, demikianlah kesimpulan beberapa warga di sana. Jangankan mensejahterakan rakyatnya, papar mereka, keluarganya pun berantakan begitu rupa. Pasalnya, jabatan yang kemudian menghasilkan kekayaan dan juga kekuatan itu telah membuatnya mabuk kepayang. Sementara pembangunan tak tampak keberadaannya.

Maka aku pun teringat ucapan Eros Djarot di atas: Ujian tertinggi bagi seorang pemimpin adalah jika ia bisa mengurus keluarganya.

Artinya, urus dulu keluarga Anda sebaik-baiknya, baru kemudian melangkah ke rukun tetangga (RT), rukun warga (RW), kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan seterusnya.

Sekarang, pemilihan bupati, walikota, gubernur, di sejumlah daerah sudah menjelang. Sejumlah orang pun siap-siap berlaga, tentu saja dengan penampilan yang memesona ditambah janji muluk yang intinya siap mendatangkan kesejahteraan bagi semua. Janji, sebagaimana biasanya, sulit ditempati. Tak percaya? Lihatnya nanti!

Maka, bercermin pada ikhwal teman tadi, ada baiknya kita renungkan untaian mutiara berikut ini: Seorang hamba yang dipercaya untuk memimpin rakyatnya, tetapi menipu rakyat, maka jika ia mati, Allah mengharamkan surga baginya (HR Muslim).***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *