Oleh Almin Hatta
KARENA setiap hari (kecuali Minggu) bekerja hingga malam, maka boleh dibilang aku setiap hari makan di warung di pinggir jalan. Meski demikian, sesekali aku sempat juga mampir di restoran.
Makan di warung dan di restoran tak sekadar beda harga dan makanan yang disuguhkan. Tapi juga ada beda nyata dari pengunjung yang datang. Pengunjung restoran hanya satu jenis saja, yakni kalangan orang berada. Sedangkan pengunjung warung pinggir jalan boleh dibilang dari semua kalangan, mulai tukang becak sampai pejabat ternama.
Tapi ada yang lebih menarik dari itu. Kalau di restoran terlarang bagi pengamen, penyemir sepatu, dan peminta-minta, maka di warung pinggir jalan mereka semua boleh beroperasi sebebas-bebasnya.
Karena perbedaan itu semua, maka makan di warung pinggir jalan sebenarnya jauh lebih bernuansa. Sebab, kita jadi kenal berbagai lapisan masyarakat, dan terutama kita jadi tahu betapa sesungguhnya kehidupan yang mereka jalani teramat berat.
Suatu malam ketika makan di sebuah warung pinggir jalan, aku dihampiri seorang penyemir sepatu berusia belasan. Karena sepatuku masih mengkilap, maka aku pun menolak jasa menyemir sepatu yang ditawarkannya. Meski demikian, aku tetap menyodorkan selembar ribuan. Tapi lelaki kecil itu dengan sopan menolak. Bahkan ketika “kupaksa” menerimanya, ia tetap menolak juga.
Aku lalu bertanya, kenapa? “Saya penyemir sepatu, bukan peminta-minta,” ujarnya.
Jawaban tersebut tentu tak semata pernyataan bahwa si lelaki kecil itu bukan pengemis yang cuma bisa berharap belas-kasihan, melainkan penegasan bahwa ia memiliki sebuah kehormatan yang pantas dipertahankan.
Bicara soal kehormatan, aku jadi teringat cerita rakyat dari Semenanjung Arabia sebagaimana dituliskan Inea Bushnaq dalam bukunya “Kisah-Kisah Fantastis dari Negeri 1001 Malam”.
Dikisahkan, suatu hari seorang Badui kehilangan seorang anaknya yang berangkat remaja di tengah pasar sebuah kota. Pedagang keliling ini kemudian mengumumkan, siapa yang menemukan anak lelakinya itu akan diberi imbalan 1.000 piaster (mata uang setempat).
Rupanya anak tersebut sengaja diculik oleh seorang pencuri, dan pencuri ini pun mendengar pengumuman dari ayah anak yang diculiknya itu. Tapi ia tak serta-merta menyerahkan anak tersebut. Ia berharap besok atau hari-hari selanjutnya, ayah anak itu akan menaikkan nilai imbalannya.
Tapi, besoknya, Si Badui justru menurunkan imbalannya menjadi 500 piaster saja. Si penculik tentu saja tak mau menyerahkan culikannya. Ia berharap, besoknya Si Badui kian panik dan karenanya menaikkan nilai imbalannya. Tapi, di hari ketiga, Si Badui justru hanya menawarkan imbalan sebesar 100 piaster saja.
Si penculik tentu saja terkejut, dan langsung takut kalau-kalau besoknya Si Badui justru menghapuskan uang imbalannya. Karenanya, ia pun buru-buru menyerahkan anak yang diculiknya.
Lantaran penasaran, si penculik lalu bertanya kepada Si Badui soal uang tebusan yang dari hari ke hari terus berkurang itu.
Si Badui pun menjawab. “Pada hari pertama, putraku marah dan menolak memakan makanan yang kamu berikan, iya kan?” ujarnya.
“Ya,” sahut si penculik.
“Pada hari kedua, anakku memakan sedikit makanan yang kamu tawarkan. Tapi pada hari ketiga, ia justru meminta roti sebanyak yang ia inginkan. Iya kan?” lanjut Si Badui. Si penculik pun membenarkan.
“Nah, menurut penilaianku, pada hari pertama itu putraku belum tercemar layaknya emas murni. Sebagaimana mestinya pria terhormat, ia tak mau menyentuh roti milik penculiknya. Karena itu aku berani menebusnya senilai seribu piaster,” kata Si Badui lagi.
“Lalu?” sela si penculik.
“Pada hari kedua, ketika rasa lapar membuatnya lupa perilaku layaknya pria terhormat, putraku pun mulai memakan makanan yang engkau berikan. Karena itu nilainya kuturunkan menjadi 500 piaster. Kemudian, ketika ia sudah berani meminta makanan di hari ketiga, maka kedatangannya kembali kepadaku hanya berharga seratus piaster saja,” jawab Si Badui. Si penculik pun mafhum.***



