Curhat Seorang Pasien dari Ruang Isolasi Covid-19

Curhat Seorang Pasien dari Ruang Isolasi Covid-19

Diposting pada

Editor: Almin Hatta

SEHAT itu senang dan bahagia. Sebaliknya sakit, pasti tak nyaman dan bahkan menderita. Apalagi jika terpapar virus Covid-19, dan harus menjalani perawatan di ruang isolasi, tentu teramat sengsara. Terlebih lagi jika perawatan yang diberikan dirasa kurang memadai.

Kondisi itulah yang dicurhatkan seorang pasien Covid-19 bernama Basuki, yang sudah beberapa hari menjalani perawatan di ruang isolasi pada Kantor Dinas Kesehatan Barito Timur (Bartim) di Kelurahan Tamiang Layang, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Bartim. Kantor Dinkes Bartim ini memang dijadikan tempat karantina pasien terpapar Corona.

Lewat WhatsApp, Basuki bercerita panjang lebar. “Kami satu keluarga bersama satu keluarga lagi dari Kecamatan Ampah, total 8 orang, diisolasi dalam satu ruang berukuran 6×5 meter,” katanya, memulai cerita, Minggu (13/9/2020).

Selama diisolasi, papar Basuki, setiap hari mereka diberi jatah makan nasi kotakan, plus obat 12 hingga 15 tablet per hari. “Dokter datang tidak tiap hari. Untuk tensi, dan lainnya, kami lakukan sendiri,” ujarnya. “Jadi, tidak ada penanganan khusus,” sambungnya.

Basuki mengaku berada di ruang isolasi itu bersama istri dan seorang anak mereka yang masih balita. Menurutnya, kebutuhan khusus anaknya tidak dipenuhi. “Misalnya susu, pampes, dan asupan khusus balita, tak ada,” ungkapnya.

Dalam konsisi terisolasi, Basuki mengaku bingung untuk memenuhi kebutuhan khusus anaknya itu. Makanan untuk mereka pun, Basuki mengaku terkadang dirasa kurang cocok dan tidak ada rasanya, sehingga harus membeli sendiri. Akibatnya, persediaan uangnya terus menipis.

Di sisi lain, lanjutnya, pemasukan tak ada. “Kita sebagai kepala keluarga tidak bisa mencari nafkah, karena berada di tempat isolasi. Padahal keperluan keluarga cukup banyak, misalnya beli susu anak, pampes, dan camilan balita yang sangat diperlukan,” ungkapnya.

Lebih dari itu, berada dalam tempat karantina tersebut dirasakan Basuki sangat membatasi gerak-geriknya, juga keluarganya, terutama anaknya yang masih kecil. “Semua ini mengganggu mental saya,” ujarnya.

Menurut Basuki, fasilitas di tempat karantina yang tadinya merupakan Kantor Dinas Kesehatan Bartim tersebut tidak memadai. Ia menyebut, total pasien yang dikarantina di situ sebanyak 31 orang. Sementara kamar mandi hanya ada tiga, dengan kondisi air sering macet.

“Selain itu, kurangnya udara masuk ke ruangan, sangat mempengaruhi kami bernafas karena pengap dan jendela dikunci mati. Semua jendela terkunci dari luar, jadi tidak bisa dibuka,” ujarnya.

Selanjutnya, dalam kalimat sedih, Basuki mengutarakan perasaannya. “Bukannya kami tidak mau diisolasi. Cobalah tundukan kepala sejenak, renungkanlah. Kami ini rakyat kecil, tidak punya penghasilan tetap. Selama ini, untuk kebutuhan sehari- kami harus bekerja dahulu, baru bisa menghasilkan uang untuk biaya hidup sehari-hari. Sekarang kami dikarantina, tentu tak ada penghasilan. Sedangkan biaya kebutuhan hidup sehari-hari sangat diperlukan,” katanya.

Dalam penutup curhatnya, Basuki berharap, semoga ada solusi dari pemerintah. Ia juga mempertanyakan dana bantuan dari dana dari pemerintah. “Apakah benar ada dana Rp5 juta untuk keluarga yang terpapar Covid-19 dari pemerintah,” ujarnya.

Menanggapi curhatan pasien tersebut, dr Jimmy WS Hutabalung MMKes dari Tim Gugus Tugas Covid-19 Bartim yang bertugas pada penanganan kesehatan pasien, menjelaskan, di tempat karantina Kantor Dinas Kesehatan Bartim itu tiap ruangan memang berukuran 6×5 meter. “Untuk satu ruangan ada yang ditempatkan 5 orang, ada 10 orang. Jadi, ada beberapa orang di dalam ruang tersebut. Hal ini terpaksa kita lakukan karena banyaknya penambahan pasien Covid-19 yang tidak bisa kita isolasi mandiri di rumah,” katanya, Minggu (13/9/2020).

Mengenai konsumsi pasien yang diisolasi, menurut dr Jimmy, diberikan tiga kali sehari. “Kita sediakan makan dengan lauk-pauknya, dan menu-menunya sesuai dengan standar kesehatan,” ujarnya.

Terkait keluhan pasien mengenai pelayanan pengobatan dan menu makanan yang disebut tidak ada rasanya, dr Jimmy menyebutkan ada banyak faktornya. “Faktornya banyak. Ada yang mengalami kebosanan, ada yang setres, dan hal lainnya. Tapi, bagi kami sebagai pelayanan kesehatan, biasa-biasa saja. Kami pun juga ikut merasakan kalau ditempatkan seperti itu,” katanya.

Berkaitan dengan keperluan susu balita, menurut dr Jimmy, mestinya yang bersangkutan bisa minta belikan sama keluarganya lewat WhatsApp. “Untuk keperluan susu anak-anak ini, pihak kesahatan memang tidak ada menyediakan. Sedangkan obat-obatan jelas kita sediakan. Terkait air yang sempat macet, sudah kita benahi,” tegasnya.

Sementara itu, Koordinator Bidang Pencegahan Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Bartim, dr Simon Biring MPH, saat ditemui di ruang kerjanya, mengatakan, jumlah total akumulasi orang yang terpapar Covid-19 di Bartim tadinya 159 kasus, namun sekarang berkurang menjadi 172. “Dengan rincian, yang sudah sembuh 86 orang. Sebanyak 84 orang masih dalam perawatan, dan 2 orang dinyatakan meninggal,” katanya.

Terkait keluhan pasen isolasi, dr Simon Biring, dengan profesional mengatakan, “Kita akan benahi pelayanan-pelayanan yang ada kekurangannya. Ya, tidak semua pekerjaan terlaksana dengan sempurna. Karena kita sebagai manusia pasti punya kekurangannya, apa-apa keluhan pasien, silahkan disampaikan,” ujar Simon Biring.[]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *