Editor: Almin Hatta
SURAKARTA – Dikenal sebagai salah satu kantong kebudayaan, ruang publik serta ruang seni kreatif di Surakarta, Jawa Tengah, Rumah Banjarsari juga dikenal rutin dalam menjalankan program kegiatan mereka. Tentu saja dengan agenda kegiatan ruang lingkup Seni dan Budaya.
Pada rilis persnya, Rumah Banjarsari resmi mengumumkan bahwa pihaknya akan melangsungkan program rutinnya kembali. Program yang dimaksud adalah Program Selasar Nusantara #4.
Program yang ditujukan untuk memperkenalkan kepada halayak luas tentang keragaman serta kekayaan budaya yang ada di Nusantara ini, juga dikenal sebagai acara untuk berproses kreatif, terutama dalam hal kesenian dan budaya. Juga sebagai wadah untuk memperkaya ilmu, melalui agenda dialognya yang dinamis, berisi, serta pembahasan seputar isu-isu kebudayaan juga lintas budaya yang ada di Nusantara.
Setelah sukses di tiga Selasar Nusantara sebelumnya, dan mengusung tiga tajuk yang berbeda, seperti: ‘Diru Papua’, ‘Minang Maimbau’ dan ‘Titian Angin Timur’, pada Selasar Nusantara #4 kali ini, ‘Habar Matan Banjar’ merupakan tajuk yang diusung oleh sang penyelenggara.
‘Habar Matan Banjar’ sendiri merupakan sebuah kalimat dalam bahasa Banjar, yang artinya kabar atau cerita yang berasal dari Banjar.
Pihak penyelenggara pun sudah mengumumkan bahwa acara ini akan berlangsung selama 3 hari, yakni pada tanggal 8, 9, dan 10 Oktober tahun 2020. Berpusat di Rumah Banjarsari dan Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta, Provinsi Jateng.
Dengan menggaet Sanggar Ading Bastari Barikin, Kalimantan Selatan, untuk bekerjasama pada program Selasar Nusantara kali ini, sudah barang pasti, kegiatan akan banyak diisi dengan beragam bentuk kebudayaan serta suguhan penampilan kesenian dan adat kebudayaan asli Banjar.
Sayangnya, tidak semua orang dapat berhadir langsung ke lokasi acara, untuk menikmati rangkaian kegiatan. Hal ini dikarenakan keadaan kita sedang berada di situasi pandemi Covid-19. Alhasil, penonton yang berhadir pun harus dibatasi, hanya beberapa undangan saja yang dapat berhadir.
“Tentunya dengan penerapan standart protokol kesehatan Covid-19 yang sudah ditentukan,” papar Zen Zulkarnain, selaku Direktur Festival Selasar Nusantara Rumah Banjarsari.
Kendati demikian, pihak penyelenggara tetap memfasilitasi mereka yang ingin menyaksikan rangkaian acara. Salah satunya dengan menayangkan siaran langsung melalui kanal Youtube Rumah Banjarsari, pukul 19.00 WIB.
Hal ini dilakukan sebagai bentuk upaya dalam menjajal metode baru tentang penyelenggarakan acara atau festival seni budaya di masa pandemi. Selain itu, ini merupakan salah satu aksi nyata yang dilakukan pihak penyelenggara guna melatih kedisiplinan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan, melalui sektor kebudayaan.
Lebih lanjut, Zen menyampaikan, sampai saat ini sedikitnya sudah ada 20 peserta yang ingin menawarkan diri untuk berpartisipasi, sebagai bentuk ekspresi kebudayaan yang hidup, dinamis, dan kontekstual.
“Itu jelas membuat rangkaian kegiatan menjadi lebih hidup. Pasalnya, ini bukan sekadar pameran artefak kebudayaan masa lalu yang telah membeku,” ujarnya.
Program ini juga menghadirkan berbagai lokakarya pertunjukan kesenian Banjar, seperti musik panting, tari Radap Rahayu, rias manten tradisi Banjar, dan ada juga demo kuliner masakan khas Banjar. Ini juga diikuti oleh 20 peserta untuk setiap konten lokakaryanya masing-masing.
Rencananya, ungkap Zen, selain seni budaya, selama tiga hari acara ini berlangsung, pihaknya juga mengadakan bazzar dan pameran budaya khas Banjar seperti benda-benda pusaka, kain dan pakaian adat, barang seni dan segala pernak-pernik khas Banjar, hingga sajian kuliner Banjar yang khusus mendatangkan tukang masaknya dari Barikin, Kalimantan Selatan.
Selasar Nusantara #4 kali ini juga menjadualkan pemutaran dokumenter yang akan disiarkan secara live dan interaktif melalui aplikasi Zoom dan di kanal youtube Rumah Banjarsari. Lalu, setelah itu dilanjutkan dengan agenda diskusi dinamis.
Dengan mengusung tema ‘Berdiri Sama Tinggi Untuk Lestari’, nantinya forum diskusi ini akan membahas beberapa isu seputar eksistensi masyarakat adat sebagai penjaga keseimbangan alam.
Berbagai nara sumber pun juga turut dihadirkan, diantaranya: Mukhlis Maman “Julak Larau”, (Pamong Budaya Madya Kalimantan Selatan), KH Dian Nafi’ (Pengasuh PP Mahasiswa Al-Muayyad Windan, Surakarta) dan Antonius Cahyadi (dosen Fakultas Hukum UI),dan yang terakhir, adalah Albertus Rusputranto, tokoh budayawan dan juga dosen ISI Surakarta ditunjuk sebagai moderator.
Saat ditanyai seputaran beberapa rangkain acaranya kelak, Zen membocorkan bahwa Selasar Nusantara #4, pertama-tama akan dibuka dengan melakukan Ritual Tampuk Mayang, dilanjutkan dengan penampilan kesenian Gandut. Dan penampilan berbagai lolakarya. “Semuanya akan dilaksanakan pada hari kedua,” ujar Zen.
Hari ketiga, acara akan ditutup dengan sebuah Pagelaran Budaya, yakni upacara ritual tradisi Baayun Maulid. Ini merupakan sebuah ritual mengayun anak, bertujuan untuk memohon dan berdoa demi kebaikan juga keselamatan sang anak.
Zen pun berpesan dalam penutupnya, “Tak kenal, maka tak sayang. Demikian pula dengan kekayaan ragam budaya Nusantara. Dengan saling mengenal dan berdialog secara konstruktif, diharapkan berdampak bagi menguatnya kohesi sosial antar kebudayaan di Nusantara,” tutup Direktur Festival Selasar Nusantara, Rumah Banjarsari tersebut.[]



