Oleh: Almin Hatta
SUATU hari belasan tahun silam, aku sekeluarga libur ke tanah kelahiranku: Kuala Pembuang, Ibukota Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Kota yang terletak di muara Sungai Seruyan itu mulai tertata cantik, setelah menjadi ibukota kabupaten sejak beberapa tahun sebelumnya.
Artinya, peningkatan status dari kecamatan menjadi kabupaten itu membawa dampak yang nyata pula. Jalan raya yang dulu cuma tanah, kini sudah beraspal. Jalan yang tadinya satu lajur, sekarang dua lajur. Juga ada pohon pelindung, ada pula taman-taman kecil mengelilingi bundaran perempatan jalan yang enak dipandang. Lalu ada sejumlah gedung mentereng. Mobil yang dulunya cuma satu dua, kini sudah sulit dihitung jumlahnya.
Tapi, selama sepekan di sana, pembicaraan masyarakat yang banyak kudengar bukanlah mengenai sejumlah kemajuan tersebut. Hampir semua penduduk Kuala Pembuang justru membicarakan pembangunan rumah bupati. Bukan rumah dinas, melainkan rumah pribadi.
Orang membikin rumah, apakah itu presiden, gubernur, walikota, pengusaha, atau rakyat biasa, mestinya lumrah saja. Sebab, semua orang memang berhak melakukannya. Apalagi jika diingat bahwa rumah merupakan salah satu kebutuhan primer manusia. Tanpa rumah, tuna wisma namanya. Masa seorang bupati tuna wisma?
Masalahnya, rumah pribadi Bupati Seruyan yang kala itu sudah hampir rampung tersebut dinilai masyarakat setempat kelewat mewah. Ya, ukurannya memang kelewat wah. Membentang dari jalan raya di timur sampai ke jalan raya di barat, dan menghadap ke jalan raya di selatan. Keberadaannya pun kelewat mencolok dibandingkan rata-rata rumah penduduk yang kebanyakan menyerupai pondok.
Sebenarnya, untuk ukuran masyarakat kota, terutama kota provinsi apalagi kota besar seperti Surabaya atau Jakarta, rumah Bupati Seruyan itu boleh dibilang biasa-biasa saja. Jadi, soalnya hanyalah letaknya saja. Artinya, kenapa pula Bupati Seruyan ini membuat rumah semewah itu di sana? Kenapa tidak di Bandung atau Jogja, atau minimal di Palangkaraya, sehingga bisa dipastikan tak seorang pun yang akan mempersoalkannya.
Meski demikian, inti persoalannya tidaklah terletak pada besar-kecilnya rumah. Tidak pula pada kemewahan atau kesederhanannya. Bahkan tak terletak pada lokasinya, di kota besar, kota kecil, atau di desa terpencil. Soalnya adalah, untuk apa sebuah rumah dibuat: untuk sekadar pamer kemewahan, atau untuk tempat istirahat yang nyaman setelah seharian didera kerja yang melelahkan?
Karena itu, marilah kita renungkan ujaran Kahlil Gibran berikut ini: Bangunlah rumah di dalam angan-angan kalian, tempat perlindungan di tengah rimba, sebelum kalian membangun perumahan di tengah kota. Karena, sebagaimana kalian harus pulang setiap senja, demikianlah pula jiwa halus kalian yang kini selalu berkeliaran seorang diri entah ke mana.***



