Banjarmasin Gelar Rakor Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting

Banjarmasin Gelar Rakor Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting

Diposting pada

Editor : Almin Hatta

BANJARMASIN – Pj Walikota Banjarmasin, Akhmad Fydayeen, membuka ‘Rakor Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting, Aksi III Rembuk Stunting, Aksi IV Sosialisasi Perwali Tentang Kelurahan’, di Aula Dinas Kesehatan Banjarmasin, Kamis (06/05) kemarin.

Didamping Kepala Dinas Kesehatan Machli Riyadi, dan Sugito selaku Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Baretlitbangda) Kota Banjarmasin, Akhmad Fydayeen menyatakan rakor ini merupakan upaya menurunkan stunting di Banjarmasin.

Menurut Fydayeen, penurunan stunting ini salah satu prioritas pembangunan kesehatan dalam RPJMD Kota Banjarmasin Tahun 2018-2023.

“Yakni dengan peningkatan upaya penerapan paradigma sehat melalui pencegahan dan penanganan stunting. Sebab, stunting merupakan penyebab rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang berdampak pada risiko penurunan kemampuan produktif masyarakat,” katanya.

Stunting, papar Fydayeen, merupakan manifestasi dari kegagalan pertumbuhan yang dimulai sejak dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun.

Oleh karena itu, lanjutnya, pembangunan SDM yang berkualitas harus dipersiapkan dengan Intervensi Gizi Spesifik yang ditujukan kepada anak dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Disebutkan, tindakan tersebut berkontribusi pada 30% penurunan stunting. Sedangkan Intervensi Gizi Sensitif yang dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan diluar sektor kesehatan akan berkontribusi pada 70% penurunan stunting, dengan sasaran masyarakat secara umum.

“Persoalan stunting patut menjadi perhatian untuk segera dituntaskan. Tingginya prevalensi anak stunting telah memposisikan Indonesia ke dalam lima besar dunia masalah stunting, di bawah India, Cina, Nigeria, dan Pakistan,” katanya.

Dalam rangka percepatan penurunan stunting, Pemerintah Pusat telah menetapkan kabupaten/kota lokasi pelaksanaan intervensi penurunan stunting terintegrasi.

Hal itu dilakukan, karena salah satu tantangan lima tahun ke depan adalah menghadapi bonus demografi dimana usia produktif lebih besar dibandingkan usia non produktif.

“Oleh sebab itu Pemkot Banjarmasin berupaya bagaimana dapat mengoptimalkan bonus demografi tersebut, untuk mendorong percepatan pembangunan daerah dengan memanfaatkan penduduk usia produktif yang berkualitas dan berdaya saing melalui perbaikan gizi pada anak usia dini,” tegas Fydayeen.

Dalam rangka mendukung pelaksanaan aksi konvergensi percepatan pencegahan stunting di kabupaten/kota, Pemkot perlu melakukan rapat kerja yang dimaksudkan sebagai tahap meninjau kemajuan pelaksanaan aksi konvergensi percepatan pencegahan dan penurunan stunting, mendasarkan pada pendekatan intervensi gizi spesifik dan gizi sensitive.

“Penilaian kinerja ini diperlukan untuk meningkatkan kapasitas pelaksanaan konvergensi dalam perencanaan, penganggaran, implementasi, pemantauan, dan evaluasi program/kegiatan percepatan penurunan stunting, yang berkontribusi terhadap pencapaian tujuan pembangunan sumber daya manusia,” tutupnya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *