Oleh Almin Hatta
“HARAPAN adalah kejahatan yang buruk, karena ia hanya memperpanjang kesengsaraan manusia,” tulis Nietzshe suatu ketika.
Sebuah kalimat yang begitu menohok bagi segenap orang yang memandang hidup ini dengan rasa optimistis. Terutama bagi mereka yang kelewat panjang angan dan terlalu banyak berharap.
Maka, banyak orang yang langsung mencap Nietzshe sebagai filsuf gila. Ini tentu saja bisa dimaklumi. Sebab, orang pada umumnya berpendapat bahwa harapan adalah minyak bagi nyala kehidupan. Tanpa harapan, hidup seseorang dipastikan sedang meredup dan perlahan namun pasti menuju ke kematian. Yah, tanpa harapan untuk apa lagi hidup dilanjutkan.
Tapi, sebaliknya, kalimat yang sama membuat mereka yang selalu pesimis seakan mendapat dukungan dari seorang tokoh kelas dunia. Mereka yang selalu mencemaskan masa depan tanpa malu-malu menjadikan kalimat tersebut sebagai jimat atau “kata sakti”.
Maka, kalimat yang seakan menyiratkan keputusasaan itu pun dibaca berulang-ulang, dan bahkan dirapalkan untuk kemudian dijadikan pegangan dalam pengayuh biduk kehidupan yang muram.
Tapi, sebenarnya, Nietzshe tak terlalu salah dengan kalimatnya yang terasa naif namun sekaligus sarat makna tersebut. Bukankah tak sedikit orang yang berharap suatu ketika dapat membalik keadaan? Bukankah tak sedikit orang yang berharap suatu ketika orang kaya menjadi papa, dan si miskin menjadi kaya lalu dengan pongah berkata, “Tahu rasa kau sekarang, bagaimana pedihnya hidup dililit kemiskinan!”
Pemilu, Pilkada, atau sekadar pemilihan Lurah misalnya, diharapkan dapat menjadi sarana pemutarbalikkan keadaan. Lewat pesta demokrasi tersebut, tak sedikit orang yang berharap agar orang-orang yang tadinya berkuasa tiba-tiba jadi rakyat biasa. Sebaliknya, orang yang tadinya cuma rakyat jelata tiba-tiba menjadi penguasa.
Maka, dengan demikian, aksi balas dendam pun dapat dilaksanakan. Padahal, apa pun alasannya, yang namanya balas dendam adalah kejahatan. Dan yang namanya kejahatan, apa pun bentuknya, selalu melahirkan kesengsaraan.
Orang yang selalu berharap menjadi kaya, misalnya, akan selalu menderita selama kekayaan yang diimpikan tak kunjung menghampirinya. Meski kekayaan yang diharapkannya itu diniatkan untuk membeli kebaikan: untuk naik haji dan menyantuni segenap orang yang kekurangan, misalnya.
Lalu, apa pula pilihannya? Apakah kita harus dengan dingin membunuh sampai mampus yang namanya “harapan”? Atau sebaliknya, kita tetap memupuk dan menumbuhsuburkan Sang Harapan?
Agama mengajarkan, kejarlah terus dunia seakan kamu hidup selamanya di atasnya. Tapi, bersamaan dengan itu, diajarkan pula agar segenap umat manusia tak pernah berhenti mengejar akhirat seakan ia mati sedetik kemudian.
Jadi, tetaplah tumbuhsuburkan harapan. Tapi dengan catatan, jangan sampai ia membuat orang yang bersangkutan mabuk kepayang. Sebab, harapan yang kelewatan akan membuat seseorang tak meraih apa-apa, kecuali kesengsaraan sebagaimana yang Nietzshe khawatirkan.***



