Oleh Almin Hatta
SUATU hari, belasan tahun silam, seseorang datang bertamu ke gedung DPRD sebuah provinsi. Kala itu para wakil rakyat di situ baru dilantik beberapa hari sebelumnya. Tamu tersebut bertanya kepada sejumlah wartawan yang mangkal di situ, di mana letak ruangan fraksi yang mewakili sebuah partai.
Kebetulan kala itu di dekat para wartawan tersebut ada seorang anggota fraksi yang dimaksud. Maka para wartawan pun menyarankan tamu tersebut bertanya langsung kepadanya.
Tapi, apa jawab wakil rakyat tersebut? “Wah, maaf, saya juga baru di sini, jadi belum tahu di mana letak ruang fraksi yang Anda tanyakan, silakan tanya kepada yang lain saja,” katanya.
Tamu tersebut tentu saja keheranan. Para wartawan tadi, termasuk saya yang kala itu masih bertugas di lapangan, tentu lebih terheran-heran. Pasalnya, kami tahu pasti kalau wakil rakyat tersebut jelas-jelas berdusta. Sebab, sejak dilantik sebagai wakil rakyat sekitar sepuluh hari sebelumnya, wakil rakyat tersebut justru lebih sering duduk saja di ruang fraksinya. Tapi, sejak itu pula segenap wartawan yang mangkal di sana mengenalnya sebagai wakil rakyat yang jarang mau diajak bicara. Ia lebih banyak diam ketimbang bicara. Terutama jika wartawan bertanya untuk konsumsi berita, ia pasti diam seribu basa.
“Silakan tanya kepada yang lain saja,” begitu selalu jawabannya.
Setelah ditelusuri, anggota dewan tersebut kabarnya seorang yang tolol, setidaknya tak cukup pintar untuk menjadi anggota dewan yang umumnya terpelajar.
Tapi kenapa ia bisa sampai lolos menjadi wakil rakyat, tak ada yang dapat menjelaskannya, kecuali bahwa posisi tersebut diyakini memang sudah menjadi rezekinya.
Kemarin, saya membaca salah satu cerita dalam buku “Canda Nabi Tawa Sufi” karya KH Mustofa Bisri.
Dikisahkan, suatu hari seorang raja mengumpulkan para penasihatnya. Ketika diberi kesempatan bicara, semua penasihat itu pun bicara macam-macam, terutama memuji-muji Sang Raja. Tapi, salah satu dari mereka justru diam saja. Karenanya raja pun bertanya, “Kenapa dari tadi kamu diam saja, tak banyak bicara seperti mereka?”
Penasihat yang satu itupun menjelaskan. “Aku memang sengaja diam karena sedang mempertimbangkan dua hal yang sama-sama berat. Apakah aku akan bicara bohong seperti mereka untuk menyenangkan Anda, atau bicara jujur dan membahayakan diriku sendiri,” ujarnya.
Di akhir ceritanya, KH Mustofa Bisri menuliskan begini, “Orang bijak penasihat raja itu menasihati kita semua. Kalau kita akan bicara sebaiknya dipikirkan dulu, agar bicara kita tidak menimbulkan hal-hal negatif. Tapi orang tolol biasanya malas berfikir, karena itu ia lebih dianjurkan untuk diam saja.”
Kembali ke soal anggota dewan tadi, agaknya ia bukanlah seorang tolol yang malas berpikir, melainkan seorang tolol yang bijak. Buktinya, agar tak salah bicara yang bisa mendatangkan malu baginya dan bahkan malu bagi semua anggota dewan yang mulia, ia lebih memilih diam saja.
Hanya saja, ulahnya itu tetap memunculkan tanya: Apakah dengan tak bicara apa-apa ia masih pantas mewakili kita semua sebagai wakil rakyat yang terhormat?***



