Mereka yang Terlupakan
ilustrasi

Mereka yang Terlupakan

Diposting pada

Oleh Almin Hatta

 

SETIAP bulan Ramadhan tiba, selalu saja ada kabar gembira. Yakni sedemikian banyak orang yang peduli kepada sesama. Terutama kepada mereka yang selama sekian bulan hidup menderita. Misalnya menyantuni anak-anak yatim-piatu yang tinggal di panti-panti asuhan.

 

Tapi, apakah semua yang kita lakukan itu sudah benar-benar merupakan cerminan dari kesalehan dan keimanan semata karena Allah SWT? 

 

Benarkah semua itu sudah merupakan gambaran bahwa kita sekalian peduli kepada setiap orang yang kekurangan? 

 

Jangan-jangan kita cuma memanfaatkan momentum Ramadhan semata, sebab dalam bulan penuh berkah ini Allah memang menjanjikan sedemikian banyak kelipatan pahala dari amal baik kita? 

 

Artinya, jangan-jangan kita sebenarnya cuma mengejar keuntungan belaka berupa segunung pahala? Bahkan, lebih celaka lagi, jangan-jangan kita cuma sekadar ingin pamer semata. Alhasil, apa yang kita lakukan tak lebih dari sekadar tindakan kesalehan palsu belaka.

 

Bicara soal kesalehan palsu ini, ada cerita menarik dari Mohammad Yasin Owadally dalam bukunya yang berjudul “Great Tales from Mullah Nasruddin Effendi” yang diterjemahkan oleh Drs Kustadi Suhandang menjadi “Surat ke Bagdad Nasruddin Hodja”.

 

Dikisahkan, suatu hari Nasruddin Hodja berceramah di sebuah kampung. Sufi pengelana yang sangat miskin ini dalam ceramahnya memaparkan soal kehidupan Jesus di surga. 

 

Mendengar itu, seorang wanita tua yang sangat memperhatikan kisah Nasruddin tiba-tiba menyela, “Mullah, apakah Jesus memperoleh makanan di surga sana?” ujarnya.

 

Nasruddin Hodja yang sudah sekitar sebulan berada di kampung tersebut dan selama kurun waktu itu makan-minumnya tak menentu, kontan tersenyum. 

 

Setelah diam beberapa saat, ia pun menjawab, “Anda wanita yang benar-benar lucu. Kenapa Anda memikirkan apakah Jesus di surga sana memperoleh makanan atau tidak? Sementara itu Anda sama sekali tak pernah mengajak mullah yang miskin ini makan di bumi,” ujarnya.  

 

Begitulah, kita kerap melupakan orang-orang tak berpunya yang begitu banyak bertebaran di sekitar kita. Kita kerap dengan sangat serius bikin acara penyerahan santunan untuk anak-anak malang yang tinggal di panti asuhan. Kita juga tak segan-segan mengirim bantuan kepada korban bencana alam nun jauh di seberang lautan. Sementara itu, tetangga miskin di belakang rumah kita, tetangga kesusahan di dalam gang di seberang jalan depan rumah kita, sekian banyak warga kekurangan pada satu kelurahan bahkan pada RT yang sama, kerap terlupakan begitu saja.

 

Memang menyantuni anak yatim, apalagi yatim-piatu, dan juga korban bencana alam, adalah kewajiban kita semua yang kebetulan ada kelebihan harta. Tapi, menyantuni tetangga terdekat yang kesusahan haruslah didahulukan. Sebab, Rasulullah SAW sudah menegaskan: Tidak beriman seseorang yang membiarkan tetangganya kelaparan.*** 

           

  

  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *