Sarkasme, Satire, Sindiran, Perundungan, dan Hoaks

  • Whatsapp
ilustrasi

KEMAJUAN teknologi, informasi, dan komunikasi berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan ini diikuti beragam persoalan. Media sosial sebagai anak dari teknologi menarik animo masyarakat dalam mengekspresikan diri serta memudahkan interaksi sosial. Pemanfaatan media sosial sebagai media bersosialisasi dan komunikasi memudahkan masyarakat dalam banyak hal. Kemudahan tersebut di antaranya adalah distribusi informasi, pengiklanan, pengumuman, dan lain sebagainya. Namun, seiring dengan berbagai kemudahan yang disajikan oleh media sosial, selalu ada hal lain yang mengikuti.

Kemudahan akses membuat pengguna media sosial berbuat sekehendak hatinya. Perbuatan-perbuatan yang selama ini cukup meresahkan adalah hoaks, kata-kata sarkas, sindiran-sindiran, perundungan, bahkan gambar dan video yang tidak untuk konsumsi publik. Semua hal itu dapat kita temukan di media-media sosial yang populer seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan Tiktok.

Sarkasme yang muncul di media sosial berbuntut pada perundungan oleh pengguna media sosial. Hal ini menyebabkan banyak korban perundungan mengalami stres ringan akibat kata-kata sarkas yang dilontarkan oleh pengguna lain. Perundungan di media sosial kemudian menjadi masalah serius yang harus diminimalisasi.

Edukasi mengenai bijak bermedia sosial sudah cukup banyak beredar di media sosial itu sendiri, akan tetapi tampaknya edukasi ini tidak terlalu berdampak besar bagi pengguna. Para pengguna kemudian menggunakan akun palsu hanya untuk berkomentar pada postingan korban. Merasa puas karena telah merundung korban merupakan hal yang perlu disadarkan. Kami berasumsi bahwa kata-kata sarkas, perundungan, dan hoaks merupakan kemenangan-kemenangan kecil yang didapat oleh pengguna media sosial di dunia maya. Perasaan ini perlu dihilangkan dari diri kita masing-masing.

Pengguna media sosial perlu disadarkan bahwa ada perasaan yang dijaga, ada kesehatan mental yang tidak boleh dirusak, dan kecemasan-kecemasan yang perlu diredakan. Oleh karena itu, masing-masing pengguna media sosial harus menyadarkan diri sendiri untuk saling menghargai dalam bermedia sosial. Menjaga jari kita dalam berkomentar di media sosial, serta dalam memposting apapun dalam media sosial.

Postingan di media sosial harus dibersihkan dari berita-berita palsu atau hoaks. Dewasa ini, berita palsu cenderung kontroversial dan memicu berbagai opini. Andai opini yang muncul bertujuan untuk meluruskan keadaaan, maka akan lebih baik. Namun, pada kenyataannya opini yang terlontar dari jari jemari pengguna media sosial atau netizen sering memperkeruh suasana. Hal ini disebabkan oleh kurangnya informasi dan pemahaman oknum netizen mengenai topik yang sedang dibahas dan mengenai etika bermedia sosial.

Oleh karena itu, kesadaran mengenai bijak bermedia sosial harus dibangun dari diri sendiri. Kita cukup tahu dan mampu membedakan hal yang baik dan buruk dalam konteks masyarakat Indonesia.

Penyusun: Muhammad Helman Tijani, Naila Rahma, Najwa, Napisah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.