Mengapa Azan Diregulasi?

  • Whatsapp
ilustrasi

BELAKANGAN masyarakat dikejutkan oleh Surat Edaran Menteri Agama, tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala. Bukan tanpa sebab, di tengah masyarakat mayoritas Islam seperti Indonesia, apa yang menyebabkan Menteri Agama mengeluarkan surat edaran tersebut? Hal ini tentu menjadi tanda tanya besar di kalangan masyarakat umum. Tak tanggung-tanggung, surat edaran tersebut langsung ditujukan kepada kepala-kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama di seluruh Indonesia dari tingkat provinsi sampai dengan tingkat kecamatan. Selain itu, edaran ini juga disampaikan langsung kepada takmir atau pengurus masjid dan musala di seluruh Indonesia.

Berdasarkan pernyataan Menteri Agama, aturan pengeras suara di masjid atau musala merupakan kebutuhan bagi umat Islam. Namun, di sisi lain, terdapat keberagaman baik agama, suku, adat istiadat, bahasa, dan lain sebagainya. Untuk itulah perlu dilakukan upaya untuk merawat persatuan dan kesatuan negara. Salah satu aturan pengeras suara masjid terbaru dijelaskan, volume pengeras suara di masjid dan musala maksimal 100 desibel.

Kementerian Agama telah menerbitkan Instruksi Dirjen Bimas Islam tahun 1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar dan Musala. Instruksi No Kep/D/101/1978 diterbitkan seiring meluasnya penggunaan pengeras suara oleh masjid/langgar/musala di seluruh Indonesia, baik untuk azan, iqamah, membaca Al-Quran, membaca doa, peringatan hari besar Islam, dan lainnya. Hal tersebut selain menimbulkan kegairahan beragama dan menambah syiar kehidupan keagamaan, pada sebagian lingkungan masyarakat kadang juga menimbulkan ekses rasa tidak simpati disebabkan pemakaiannya kurang memenuhi syarat.

Menanggapi hal tersebut, regulasi Azan di Indonesia tentu menimbulkan banyak pertanyaan, pro, dan kontra. Mengapa adzan di regulasi di negara mayoritas Islam seperti Indonesia? Maka kami mencoba menemukan alasan-alasan mengapa azan diregulasi.

Pertama, sebagai media syiar umat Islam di tengah masyarakat yang heterogen, pengeras suara di tempat ibadah perlu diatur penggunaannya. Hal ini bertujuan untuk merawat persaudaraan dan harmoni sosial di tengah masyarakat yang memiiliki latar belakang yang berbeda-beda.

Kedua, untuk memastikan penggunaan pengeras suara tidak menimbulkan potensi gangguan ketenteraman, ketertiban, dan keharmonisan antarwarga masyarakat. Hal ini tentu merupakan alasan yang cukup kontekstual. Pada beberapa daerah lantunan azan maupun ayat suci Al-Quran sama sekali tidak menganggu umat yang lain.

Ketiga, selain untuk menjaga keharmonisan, surat edaran Menteri Agama mengenai Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di tempat ibadah merupakan pedoman yang bertujuan untuk memberikan acuan agar suara yang dihasilkan optimal. Pada surat edaran Menteri tersebut juga disebutkan mengenai pengguna pengeras suara. Diharapkan lafaz dan suaranya bagus, baik, dan benar.

Maka, dengan surat edaran ini kami berpendapat bahwa meskipun Islam merupakan mayoritas umat di Indonesia, akan tetapi saling menghargai dengan menjaga kerukunan umat beragama tetap dinjunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia secara umum. Oleh karena itu, jika berbicara toleransi, kami pikir masyarakat Indonesia secara umum cukup toleran.

Disusun oleh: Muhamad Raffy Akbar, Musannada, Siti Rahmah, Tuti Noryani.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.