BANJARMASIN – Diskusi formal Ngaji Puisi yang dihelat Dewan Kesenian Banjarmasin (DK-Bjm) berakhir sekitar pukul 23.00 WITA, Minggu (24/4) di Kampung Buku, Banjarmasin. Namun, sejumlah pegiat belum enggan meninggalkan tempat. Pembicaraan terus berlanjut hingga saling baca puisi.
Malam itu, almarhum penyair Ajamuddin Tifani dan karyanya yang menjadi topik. Peserta diskusi antara lain Staf Muda Walikota M Budi Zakia Sani hingga Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Banjarmasin Ihsan El Haque ikut membacakan puisi karya Ajamuddin Tifani dengan semangat secara bergantian.
Menurut Ketua DK-Bjm Hajriansyah, Ngaji Puisi adalah agenda rutin setiap bulan Ramadhan. “Ini adalah yang kedua kalinya, setelah Ramadhan tahun kemarin kita ngaji, membacakan dan membicarakan, puisi Hijaz Yamani,” ujarnya.
DK-Bjm sengaja memilih Ajamuddin setelah sebelumnya Hijaz. Alasannya, tokoh tersebut merepresentasikan sastra atau puisi Kalimantan Selatan.
“Lebih khusus mereka lahir, tinggal berprestasi, menasional bahkan mendunia, hingga meninggal di Banjarmasin,” kata Hajri.
Dialog formal dipandu sastrawan dan dosen Poliban Nailiya Nikmah dengan pemantik YS Agus Suseno dan Dewi Alfianti.
Menurut Agus Suseno, Ajamuddin adalah tokoh sentral seniman dan sastrawan Banjarmasin era 70-80an.
“Para seniman Banjarmasin umumnya berkumpul di sekretariat Sanggar Budaya dan sekitarnya, yang hari ini jadi gedung DPRD Prov. Kalsel. Pergaulan itu sendiri, meski serba kekurangan secara materi, namun hidup dan kaya dengan gagasan, sikap saling menghormati, dan kompetisi kekaryaan untuk menjadi lebih baik,” ujar Agus.
Sementara Dewi Alfianti, anak kandung Ajamuddin sendiri, membahas karya ayahnya itu. Dia membagi puisi Ajamuddin atas tiga tema; sufistik, sosial, domestik.
Puisi-puisi sufistik Ajamuddin memurut Dewi, sudah terlalu banyak dibicarakan. Sementara menurutnya, dimensi sosialnya, lebih-lebih sisi domestik.
“Kehidupan sehari-hari dan rumah tangga tak banyak disinggung secara luas,” ucapnya.
Dalam hal ini, Dewi sebagai anak sang penyair dapat menjelaskan secara detail dan tetap sistematis sebagaimana biasa dalam kebiasaan akademis.
Tiga orang penanggap juga turut meramaikan diskusi, dari sastrawan Ali Syamsuddin Arsy, akademisi ULM Nasrullah, dan Hajriansyah, yang menyoroti sisi lain dari sastrawan “besar” Ajamuddin Tifani.
Ngaji Puisi Ajamuddin Tifani dimulai dengan pertunjukkan dari kolaborasi Sanggar Titian Barantai UNISKA dan Teater Himasindo FKIP ULM, dan Cha_catuk Percussion.



