Presiden Donald Trump secara resmi dilantik untuk masa jabatan keduanya pada Senin sore, menjadikannya salah satu dari sedikit presiden Amerika Serikat yang kembali ke Gedung Putih setelah kalah dalam upaya pemilihan ulang empat tahun sebelumnya.
“Era Keemasan Amerika dimulai hari ini,” ungkap Trump dalam pidato pelantikannya. “Kita tidak akan lagi membiarkan diri kita dimanfaatkan.”
Berikut adalah tiga poin penting dari hari pertama kembalinya Trump menjabat.
Pidato yang Sarat Kritik dan Ambisi
Diapit oleh mantan Presiden Joe Biden dan mantan Wakil Presiden Kamala Harris, Trump tidak ragu untuk mengkritik kepemimpinan sebelumnya dalam pidatonya. Ia juga menonjolkan kemenangan besar atas mereka pada pemilu November lalu, sebuah pendekatan yang berbeda dari tradisi pelantikan, di mana presiden baru biasanya lebih fokus pada visi masa depan.
Berbeda dengan pidato pelantikannya tahun 2017, yang menyoroti “pembantaian besar-besaran di Amerika” dan pabrik-pabrik yang hancur, kali ini Trump lebih optimis. Ia menjanjikan “era baru kesuksesan nasional” dan menyebut kebangkitan politiknya sebagai bukti bahwa tidak ada yang mustahil.
“Selama delapan tahun terakhir, saya telah menghadapi ujian lebih berat daripada presiden mana pun dalam sejarah 250 tahun negara kita,” klaim Trump. “Di Amerika, hal yang dianggap mustahil adalah keahlian terbaik kita.”
Manifest Destiny dan Visi Besar
Trump menghidupkan kembali semangat Manifest Destiny abad ke-19, menyampaikan ambisi besar untuk masa jabatan keduanya. Ia berbicara tentang menjelajah Mars, “mengambil kembali” Terusan Panama, mengganti nama Teluk Meksiko menjadi “Teluk Amerika,” hingga mengembalikan nama Denali di Alaska menjadi Mt. McKinley.
“Amerika Serikat akan kembali melihat dirinya sebagai bangsa yang terus berkembang – meningkatkan kekayaan, memperluas wilayah, membangun kota baru, dan mengibarkan bendera kita ke cakrawala baru,” ujar Trump dengan penuh keyakinan.
Seberapa jauh visi besar Trump akan terealisasi masih menjadi pertanyaan, tetapi ia kembali menunjukkan keahliannya dalam membangun narasi besar yang memengaruhi negosiasi dan politik.
Perubahan Dinamika Politik
Pada tahun 2017, pelantikan pertama Trump memicu protes besar-besaran di Washington D.C., menjadikannya salah satu aksi demonstrasi satu hari terbesar dalam sejarah Amerika. Kala itu, ia menghadapi perlawanan dari kubu progresif, raksasa teknologi, bahkan dari dalam partai Republik sendiri.
Namun, situasi pada hari Senin kali ini sangat berbeda. Selama delapan tahun terakhir, Trump berhasil membentuk Partai Republik sesuai dengan visinya. Para tokoh konservatif yang dulu menentangnya, seperti Paul Ryan, Mitt Romney, dan Liz Cheney, kini telah tersingkir. Bahkan, para pemimpin Silicon Valley seperti Mark Zuckerberg tampak menyelaraskan kebijakan mereka dengan pemerintahan baru.
Protes dari kelompok progresif memang tetap ada, tetapi skalanya jauh lebih kecil dibandingkan tahun 2017. Sebagian besar Demokrat menerima hasil pemilu kali ini tanpa perlawanan berarti, sebuah perubahan besar dari atmosfer yang sebelumnya penuh penentangan.



