Warga Desa Panggungan Resah, Abrasi Sungai Amandit Ancam Rumah Mereka

Diposting pada

KANDANGAN – Pagi itu, suasana di RT 3 Desa Panggungan terasa berbeda. Warga berkumpul dengan penuh harapan, menanti kehadiran Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Selatan, Kartoyo, yang mengadakan kegiatan reses pada Rabu (5/2/2025).

Di pertemuan itu, warga tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyampaikan keluhan mereka, salah satunya mengenai abrasi tanah yang semakin parah akibat arus deras Sungai Amandit. Erosi yang terus terjadi ini bahkan telah mengancam setidaknya tujuh rumah warga di sekitar bantaran sungai.

Narto, salah satu warga yang hadir, mengungkapkan kekhawatirannya. Menurutnya, jika dibiarkan tanpa penanganan, abrasi ini bisa membuat rumah-rumah yang berada di tepi sungai mengalami kerusakan lebih serius atau bahkan ambruk ke dalam aliran sungai.

“Kami khawatir, Pak. Lama-lama rumah kami bisa roboh kalau tanah terus terkikis. Semoga ada solusi supaya kami bisa tinggal dengan aman,” ujarnya penuh harap.

Kondisi ini memang menjadi ancaman bagi warga Desa Panggungan, yang sebagian besar tinggal di sekitar bantaran Sungai Amandit. Mereka berharap ada tindakan nyata dari pemerintah untuk mencegah dampak yang lebih luas.

Menanggapi keluhan tersebut, Kartoyo menegaskan bahwa masalah ini perlu segera ditangani. Ia menyebutkan bahwa Sungai Amandit bukan hanya menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar, tetapi juga merupakan salah satu objek wisata di Kalimantan Selatan yang perlu dijaga.

“Kita harus melakukan pembenahan dengan beronjong minimal sepanjang 200 meter untuk mencegah erosi,” ujarnya.

Kartoyo juga menambahkan bahwa jika abrasi ini terus dibiarkan, maka dampaknya akan semakin meluas dan bisa mengancam lebih banyak rumah warga di tepi sungai. Oleh karena itu, ia berkomitmen untuk membawa persoalan ini ke tingkat yang lebih tinggi agar segera mendapatkan solusi.

Reses ini memberi harapan bagi warga Desa Panggungan. Mereka berharap aspirasi yang telah disampaikan tidak hanya dicatat, tetapi juga segera direalisasikan dalam bentuk tindakan nyata. Dengan adanya pembangunan beronjong atau upaya lain untuk mencegah abrasi, mereka bisa merasa lebih tenang dan tidak lagi dihantui ketakutan kehilangan tempat tinggal mereka.

Kini, warga menunggu langkah selanjutnya dari pemerintah dan DPRD untuk memastikan rumah mereka tetap berdiri kokoh di tepi Sungai Amandit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *