ilustrasi dibuat oleh AI

Gaya Lama Rasa Baru: Ketika Thrifting Jadi Gaya Hidup dan Gerakan Ramah Lingkungan

Diposting pada

Dulu, baju bekas identik dengan “murahan” dan dianggap kurang prestise. Tapi hari ini, thrifting justru menjelma jadi simbol gaya hidup anak muda urban yang edgy, kreatif, dan peduli bumi. Dari lapak-lapak kaki lima di kawasan Pasar Lama Banjarmasin hingga akun Instagram dengan ribuan followers, preloved fashion kini punya tempat spesial di lemari dan hati generasi masa kini.

Thrifting bukan cuma soal dapet jaket vintage Levi’s harga Rp75 ribu atau kemeja flanel motif jadul yang nggak pasaran. Lebih dari itu, ini soal pilihan sadar. Banyak anak muda yang mulai tersadar bahwa industri fashion cepat (fast fashion) adalah salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia.

“Aku mulai thrifting waktu SMA karena pengin tampil beda dari yang lain. Sekarang malah jadi gaya hidup. Aku juga jadi lebih mikir sebelum beli baju baru,” cerita Intan (23), mahasiswa dan pegiat konten asal Banjarmasin yang aktif membagikan konten thrift lookbook lewat Instagram Reels.

Salah satu daya tarik terbesar dari thrifting adalah keunikan. Nggak ada yang lebih satisfying daripada nemu kaos band original tahun 90-an yang udah pudar tapi justru estetik.

“Kadang aku dapet jaket army atau kemeja motif etnik dari lapak di Pasar Lima. Murah, tapi keren dan beda dari yang lain,” ujar Aldi, pemilik akun @KalselThriftProject, yang dikenal sebagai kurator barang-barang vintage di Kalimantan Selatan.

Bagi banyak anak muda, memakai baju hasil thrift bukan berarti ‘ketinggalan zaman’, tapi justru bentuk ekspresi diri yang otentik—gaya yang nggak bisa disamain dengan apa yang ada di rak brand mainstream.

Lebih dari sekadar tren, thrifting masuk ke ranah sustainable living—gaya hidup berkelanjutan. Di tengah krisis iklim dan konsumsi massal, banyak yang mulai berpikir dua kali sebelum membeli baju baru.

Beberapa komunitas lokal seperti Thrift Movement Banjarmasin juga mulai aktif mengadakan kampanye dan swap meet, di mana anak muda bisa saling bertukar pakaian agar tidak terus membeli baru. Konsepnya sederhana, tapi dampaknya bisa signifikan terhadap pengurangan limbah tekstil.

Salah satu agenda yang paling ditunggu para pencinta thrift di Kalimantan Selatan adalah gelaran Thrift Market Kalsel—sebuah event bazar fashion preloved yang rutin hadir di mal dan area publik seperti Duta Mall Banjarmasin, Lapangan Murjani Banjarbaru, dan bahkan di kafe-kafe lokal yang disulap jadi ruang pamer kreatif. Acara ini nggak cuma jadi ajang belanja hemat, tapi juga tempat nongkrong, foto-foto, dan berburu inspirasi gaya.

“Antusiasmenya selalu luar biasa. Banyak pengunjung yang datang bukan cuma buat beli baju, tapi juga karena vibes-nya seru. Ada musik, booth makanan, sampai talkshow soal sustainable fashion,” kata Maya, salah satu panitia Thrift Market Banjarbaru yang tahun ini rencananya akan digelar kembali pada akhir Agustus mendatang.

Kini thrifting bukan lagi pilihan alternatif. Ia telah jadi bagian dari percakapan gaya hidup modern—setara dengan diskusi soal kopi single origin atau skincare organik. Di era di mana semua orang ingin tampil beda dan lebih bijak dalam konsumsi, baju bekas justru jadi simbol masa depan.

Karena sejatinya, gaya bukan soal label atau harga, tapi soal cerita di baliknya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *