Dalam Nama Hawa, Episode 3: Ular di Tengah Surga

Diposting pada

 

Cinta kami tumbuh seperti bunga yang tak mengenal musim gugur.

Hari-hari di surga adalah puisi yang tak pernah selesai ditulis. Tapi bahkan dalam surga—di mana tidak ada waktu, perubahan tetap menyelinap diam-diam.

Pagi itu seperti biasa: hangat, harum, dan tenang. Hawa tertidur di sisiku, tangannya memeluk dadaku, dan aku menatap langit yang tak pernah berubah—langit yang selalu kami percaya akan tetap seperti itu….selamanya.

Namun hari itu, ia berubah. Ia bangun tanpa menyapaku. Ia berjalan lebih cepat dari biasanya. Ia menatap pepohonan seolah-olah mereka menyembunyikan sesuatu yang belum kami tahu.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa… tak memahami perempuan yang lahir dariku.

Di tengah taman, ada satu pohon yang selalu kami lewati tapi tak pernah sentuh. Pohon itu bukan milik kami.

Kami tahu itu. Kami diajarkan untuk tidak menyentuhnya. Namun Hawa mulai berhenti di bawahnya lebih sering dari biasanya. Matanya terpaku pada buahnya yang merah—semerah bibir yang baru mencicipi rahasia.

Aku bertanya: “Apa yang kau pikirkan?”
Ia menjawab: “Apakah Tuhan tak ingin kita menjadi seperti-Nya?”

Dan di balik semak, ada suara. Suara yang bukan suara kami. Lembut. Licin.

Seolah-olah mengerti isi hati Hawa sebelum ia menyadarinya sendiri.

“Apakah sungguh kalian akan mati… hanya karena mencicipi kebenaran?”

Aku tahu suara itu. Aku tidak tahu dari mana, tapi jiwaku menggigil. Ular itu bukan sekadar binatang. Ia membawa sesuatu yang belum pernah ada di surga: keraguan.

Hawa mulai berubah. Ia menjadi diam, tapi pikirannya berisik. Sentuhannya menjadi ragu. Senyumnya menjadi tanya.

Dan aku?

Aku tidak tahu bagaimana mencintai seseorang yang mulai menjauh dariku,
bahkan ketika ia berdiri tepat di sisiku.

Malam itu, aku duduk sendiri di tepi sungai.
Airnya masih bening, tapi hatiku mulai keruh. Hawa tertidur, dan di pelupuk matanya, ada sesuatu yang belum pernah kulihat: gelisah.

Apakah aku akan kehilangan surga, atau kehilangan dia yang membuat surga terasa layak untuk ditempati?

Dan untuk pertama kalinya, aku bertanya pada langit:

“Tuhan… apakah cinta juga bisa jatuh?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *