Hari itu tidak gelap.
Langit tetap biru. Angin tetap manis. Sungai tetap mengalir dengan lembut.
Tetapi sesuatu di antara kami telah berubah—dan aku tahu, tidak ada yang akan sama lagi.
Aku melihatnya berjalan pelan ke pohon itu.
Langkahnya lembut, seolah-olah ia masih ragu.
Tapi matanya telah bulat, penuh keyakinan yang tak kukenal.
Ia tidak lagi bertanya padaku.
Dan itu membuatku lebih takut daripada segala yang lain.
“Jangan,” bisikku pelan—bukan sebagai larangan, tapi sebagai harapan yang terakhir.
Namun suara ular itu telah lebih dulu menjanjikan cahaya.
Dan Hawa, yang dulu tersenyum hanya karena bunga jatuh ke telapak tangannya,
kini menatap buah itu seolah itu adalah kunci kebebasannya.
Dan ketika ia mengangkat tangannya…
waktu pun berhenti.
Aku tidak berteriak. Aku tidak menghalangi.
Aku hanya berdiri di belakangnya—di antara cinta dan ketaatan.
Tangannya menggapai buah itu seperti menjemput takdir.
Dan saat giginya menyentuh daging buah pertama di dunia…
dunia pun berubah.
Ia menoleh padaku,
Matanya tidak bersinar seperti dulu.
Ada kebingungan. Ada ketakutan. Ada semacam luka yang tak berdarah.
Ia meraih tanganku.
Dan di telapak tanganku, ia meletakkan buah itu—setengah dimakan, manis dan hancur.
“Makanlah,” katanya. “Agar kita tetap bersama.”
Aku memandangnya.
Dan dalam diam, aku bertanya:
Apakah kau akan meninggalkanku di dalam dosa jika aku tidak ikut?
Langit tetap cerah.
Namun dadaku hampa seperti gua yang dipahat oleh gema.
Aku menatap buah itu.
Bukan karena aku lapar.
Bukan karena aku ingin tahu.
Tapi karena aku lebih takut kehilangan Hawa…
daripada kehilangan surga.
Lalu aku menggigitnya.
Dan surga pun runtuh.
—



