Back to the Groove: Saat Musik 80-an Menemukan Rumah Baru di Telinga Anak Muda Banjarmasin

Diposting pada

Musik era 80-an kembali ramai diputar, bukan hanya oleh mereka yang hidup di masanya, tapi justru oleh anak-anak muda generasi sekarang yang bahkan belum lahir saat lagu-lagu itu pertama kali dirilis. Di Banjarmasin, fenomena ini terasa nyata di banyak ruang—dari warung kopi pinggir sungai, studio musik indie, hingga beranda TikTok yang penuh dengan konten bergaya retro.

Alih-alih datang dari luar negeri, banyak musisi lokal justru jadi garda depan kebangkitan ini. Nama-nama seperti Tenxi, Naykilla, Jemsii, dan Mitsuki Ayu muncul membawa warna baru lewat lagu-lagu bertema romansa urban, dikemas dengan aransemen synth lembut, bass analog, dan lirik penuh kenangan samar. Lagu seperti “Garam & Madu” bahkan sempat mendominasi chart digital selama berminggu-minggu. Tak hanya di Jakarta, gaung genre ini juga sampai ke telinga anak muda Banjarmasin yang mulai gemar mengarsipkan memori lewat suara keyboard analog dan beat groovy yang menenangkan.

Estetika visual dari era yang sama turut membentuk suasana. Jaket kulit, sepatu putih polos, hingga filter VHS mulai menjadi bagian dari gaya hidup digital. Di sejumlah titik tongkrongan Banjarmasin, kaset bekas menjadi ornamen dekoratif. Sementara itu, konten video yang mengusung suasana tahun 80-an lengkap dengan grain dan slow zoom menjamur di TikTok. Playlist bertajuk “Kencan di Tahun 1986” atau “Berdua di Udara” muncul sebagai teman setia saat senja atau larut malam.

Banyak yang menganggap kebangkitan ini sebagai bentuk nostalgia, namun lebih tepatnya: ini nostalgia buatan. Sebab generasi Z yang menghidupkan tren ini justru tak pernah hidup di masa itu. Namun lewat musik, gaya berpakaian, dan sentuhan visual retro, mereka membangun kembali dunia yang tak pernah mereka alami secara langsung. “Aku sih nyebutnya nostalgia buatan. Kita bikin kenangan dari masa yang nggak pernah kita alami,” ujar Rino Abimanyu, beatmaker asal Kayutangi yang kerap merilis instrumental lo-fi synth di SoundCloud.

Dibanding genre kekinian yang cepat dan hingar, musik ala 80-an justru hadir seperti ruang tenang. Lirik-liriknya tidak terburu-buru, melodinya menenangkan, dan suasananya memberi jeda dari bisingnya dunia digital. “City pop itu anehnya bikin tenang. Padahal aku lahir tahun 2001,” ujar Alya, seorang desainer grafis yang kerap membagikan lagu-lagu retro melalui Instagram story-nya. Hal senada juga dirasakan Dimas, videografer muda Banjarmasin, yang menyebut musik 80-an sebagai “ruang yang bisa kamu masukin”.

Popularitas genre ini tak lepas dari peran media sosial. TikTok dan Reels jadi medium penting dalam menyebarkan kembali lagu-lagu lawas maupun yang baru dengan aransemen retro. Format konten pendek, sound viral, dan visual estetik membuat musik era 80-an terasa lebih hidup dari sebelumnya. Di sisi lain, munculnya label dan produser indie yang berani mengeksplorasi genre ini juga memperkuat posisi musik retro di panggung lokal.

Fenomena ini tak hanya menunjukkan betapa musik lintas zaman tetap bisa relevan, tapi juga bagaimana generasi muda mengolah masa lalu menjadi milik mereka sendiri. Di tengah dunia yang serba cepat dan melelahkan, musik dari masa silam justru memberi ruang untuk bernapas—dan pada akhirnya, menjadi bentuk perlawanan paling lembut terhadap dunia yang tak pernah diam.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *